Skip to main content

Posts

Showing posts from January, 2012

cin(T)a

dear God dear Yhwh dear El dear Allah dear Tuhan in Your majesty, You create differences in my arrogance, i question Your wisdom in Your mistery, You create temptation in my inferiority, You make more than i am so here i am surrender me in the agony of Your love surrender me in the irony of Your law lead me to the joy of love redivined teach me how to love You more Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama yang kami sembah dengan berbagai cara terimakasih atas berkat yang Kau berikan jauhkanlah kami dari percobaan amin

Sajak sepi

ini duniaku senyap suara yang lenyap hilang semuanya sekejap tidak ada yang patut disalahkan kecuali mungkin diri sendiri yang semakin sering menyepi walau tak berarti menyukai tololnya aku tak mampu meruntuhkan tembok yang kubangun sendiri bodohnya aku tak juga melangkahkan kaki bukannya aku tak tau kebisuan ini akan membunuhku bukannnya aku tak rindu bergurau juga tertawa bukannya aku tak mau merayakan kebingaran seperti dulu aku hanya masih bisu hu.hu.hu

Belajar mencoba belajar

Mencoba Bukanlah hal yang mudah Bukanlah hal yang dapat diputuskan sekilat anggukkan kepala Mencoba adalah tentang keberanian Mengorbankan tidur siang, ataupun waktu makan Mencoba adalah mengambil resiko Untuk berhasil atau gagal Tunggu Benarkan itu sebuah esensi dari mencoba? Kupikir bukan, Mencoba adalah sebuah proses belajar *wakky!

Redup

Mata ini sayu Dan aku semakin layu Suara kalian hanya terdengar sayup Atau aku yang semakin tak mau tahu? Mungkin sedang ada rindu yang menyusup Lalu menusuk Ah rindu untuk siapa? Aku tengah merasa papa Tiada berpunya apa-apa Sekedar tawa seklumit pun tiada Cahaya ini semakin meredup Aku kehilangan daya hidup Mungkin ini yang disebut Kehampaan akut Bunuhkan sepi ini Ajak aku menari Mengenyahkan keinginan menyendiri

Kelahiran dan nasib seekor kappa

Saya baru saja merampungkan sebuah novel yang ditulis oleh Ryunosuke Akutagawa, yaitu Kappa. Sungguh, novel ini memang sebuah novel satir. Banyak hal di novel ini yang membuat saya tersenyum tipis, yah tipikal senyum saat membaca sesuatu berbau satir. Pasti terbayangkanlah ya. Ada sebuah satir yang ingin saya sharekan di sini. Tentang kelahiran dan nasib untuk dilahirkan. Menarik sekali, ini kutipannya: Seperti halnya yang kita lakukan, kappa memanggil seorang dokter atau perawat untuk mambantu proses kelahiran. Namun, tepat sebelum anak itu lahir, sang ayah-mirip seperti ketika ia sedang menelepon- meletakkan mulutnya pada vagina si ibu dan bertanya dengan suara yang keras: apakau benar-benar ingin dilahirkan ke dunia ini? Pikirkan masak-masak sebelum kau jawab. Bag mengikuti kebiasaan ini:; berlutut di lantai sehingga mulutnya sejajar dengan vagina istrinya, ia mengulang pertanyaannya berulang kali. Dan setelahnya ia berkumur dengan cairan pembersih kuman yang terletak di atas meja....