Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2019

Minimalis: Mencintai Tanpa Melekat #NambahBerita

Dua minggu yang lalu, aku belajar untuk mencintai tanpa melekat melalui Papermoon dan buku, seperti yang kutuliskan di sini. Dua hari yang lalu, aku kembali diingatkan untuk mencintai tanpa melekat melalui showcase up close with elephant kind: performing stripped back version of The Greatest Ever. Jadi ceritanya, sudah sejak Juli lalu aku galau banget mau nonton EK enggak di Jogja. Terakhir kali nonton mereka di bulan Januari, dan setelah album kedua relase belum pernah nonton lagi. Jadi ya udah kangen banget gitu lah. Namun, September pasti akan nonton mereka di Soundrenaline. Tapi ya ampun rasanya kok lama banget ampe September. Tapi kalo nonton Road to Soundrenaline yang tanggal 17 Agustus, ya jane menunda dua minggu lagi kan bisa ya. Ya sudah dengan berbagai pertimbangan biar gak bucin banget sama Bam Mastro, aku memutuskan untuk bersabar menunggu Soundrenaline di bulan September. Hari Selasa malam, pas bangun malam, buka Instagram, dan EK posting mereka akan manggung di so...

Minimalis: Belajar Mencintai Tanpa Melekat

Topu dan Pak Wid Tulisan ketiga yang kembali kurelakan untuk dibaca oleh khalayak yang lebih ramai, masih di itslove. Tulisan kali ini bercerita tentang kesadaran yang timbul setelah merefleksikan pengalaman berkunjung di studio papermoon dan menelusuri lagi perubahanku untuk meminimalisir menimbun buku. Selamat menikmati di sini ya.  https://itslove.id/minimalis-belajar-mencintai-tanpa-melekat/  

Belajar Cognitive Behavioural Therapy

Cognitive behavioural therapy atau sering disingkat dengan CBT merupakan pendekatan paling populer dibandingkan pendekatan terapi lainnya. Meskipun demikian, CBT kadang kala dianggap terlalu dangkal untuk memecahkan akar persoalan, bila dibandingkan dengan pendekatan psikodinamika atau transpersonal yang mengedepankan pada memahami keterkaitan pengalaman-pengalaman sepanjang kehidupan. Oleh sebab itu, pada mulanya, pendekatan ini tidak banyak kupilih dalam terapi karena kukritisi kurang memfasilitasi cara pandang yang holistik. Akan tetapi, sikapku yang cenderung meremehkan CBT ini sebetulnya telah beberapa kali dipatahkan oleh bukti-bukti bahwa klienku justru mendapatkan banyak insight dan berkembang pesat melalui CBT. Beberapa kasus memang sudah kuniatkan untuk menggunakan CBT dengan berbagai pertimbangan. Beberapa kasus lainnya kuubah haluan untuk menggunakan CBT di tengah perjalanan menggunakan pendekatan terapi lainnya (sebut saja psikodinamika dan humanistik). K...

Surrender me in the agony of your love

  Pagi ini aku mengawali hariku dengan sebuah doa: surrender me in the agony of your love. Doa ini terucap ketika tiba-tiba saja sebelum keluar dari kos, aku terbayang banyaknya hal yang perlu kukerjakan hari ini. Aku punya dua janji dengan klien yang sudah bertemu berkali-kali, tapi rasanya kok pekembangannya gitu-gitu aja. Bukan rasa kecewa yang muncul saat itu, tapi rasa berserah untuk menghadapi berbagai ketidakpastian yang akan kujalani hari ini. Surrender me in the agony of your love, begitu doaku karena apapun yang kujalani hari ini adalah perwujudan cintaNya yang mungkin bisa jadi belum kupahami bahasanya. Dalam bahasa yang kuanggap asing, bisa jadi cinta itu pada akhirnya hanya akan berakhir pada rasa getir. Di satu sisi, surrender me in the agony of your love, merupakan doa agar kepekaanku terhadap wujud cintaNya semakin terasah hingga mewujud pula dalam caraku berinteraksi dengan klien dengan penuh cinta. Cinta, kudefinisikan, dengan mengutip Brene Brown,...