
Pagi ini aku mengawali hariku
dengan sebuah doa: surrender me in the agony of your love. Doa ini terucap
ketika tiba-tiba saja sebelum keluar dari kos, aku terbayang banyaknya hal yang
perlu kukerjakan hari ini. Aku punya dua janji dengan klien yang sudah bertemu
berkali-kali, tapi rasanya kok pekembangannya gitu-gitu aja. Bukan rasa kecewa
yang muncul saat itu, tapi rasa berserah untuk menghadapi berbagai
ketidakpastian yang akan kujalani hari ini.
Surrender me in the agony of
your love, begitu doaku karena apapun yang kujalani hari ini adalah perwujudan
cintaNya yang mungkin bisa jadi belum kupahami bahasanya. Dalam bahasa yang
kuanggap asing, bisa jadi cinta itu pada akhirnya hanya akan berakhir pada rasa
getir.
Di satu sisi, surrender me in
the agony of your love, merupakan doa agar kepekaanku terhadap wujud cintaNya
semakin terasah hingga mewujud pula dalam caraku berinteraksi dengan klien
dengan penuh cinta. Cinta, kudefinisikan, dengan mengutip Brene Brown, the
courage to see and to be seen. Apapun kondisi klienku saat konseling, aku ingin
mencintainya apa adanya, dengan segala perkembangan atau kemundurannya, dengan
segala resistensi atau insightnya.
Lucunya, topik ini, surrender
me in the agony of your love, juga muncul di konseling hari ini. Awalnya,
klienku memang mengeluhkan kondisinya yang ingin berpindah agama. Ia menyadari
betapa ia merasa marah pada Tuhan karena ia menderita skoliosis, lalu
didiagnosis bipolar. Kondisi sakit fisik dan mental yang memaksanya untuk
berhenti sejenak dari perkuliahan. Hidupnya menjadi getir, dirinya menjadi
tidak berarti. Ia merasa seperti orang yang kalah dalam kompetisi yang
diciptakannya sendiri. Ia marah pada Tuhan yang mengambil kekuatannya untuk
unggul dalam bidang akademis seperti dirinya yang sudah-sudah. Katanya, “kenapa
dua sakit ini tidak datang padaku sebelum atau setelah kuliah saja?” Dan aku
bertanya, “apakah kamu yakin bisa menghadapinya jika bukan saat ini?” Sebuah
pertanyaan yang dijawab dengan diam.
Pertanyaan tentang apa maksud
Tuhan dengan segala kepahitan hidup juga muncul ketika aku mengambil data
tesis. Saat itu, klienku adalah korban KDRT yang diselingkuhi mantan suaminya.
Merasa dendam, klienku memilih untuk membalaskan rasa sakit hatinya setelah
bercerai dengan menjadi selingkuhan hingga terjadi kehamilan tidak diinginkan.
Belum sempat ia mengutarakan kehamilan pada pacarnya, pacar tersebut menghilang
entah kemana. Alhasil, ia membesarkan sendiri kehamilannya hingga melahirkan
dan merawat anaknya.
Tidak cukup pahit, selama kehamilan, klienku juga mengalami kekerasan dari pacarnya yang baru hingga ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan pacaran tersebut. Ketika anaknya sudah berusia dua tahun, pacar lamanya tiba-tiba kembali dan mengakui anak tersebut sebagai anak kandungnya. Pacar tersebut ingin menikahi klien tapi rencana tersebut ditentang habis-habisan oleh keluarga klien yang sudah geram pada sikap pacar yang dianggap tidak bertanggung jawab. Sikap keluarga yang tidak kunjung merestui ini membuat klien terus-menerus berpikiran untuk kabur dari rumah. Kemarahan yang besar pada jalan hidupnya membuat klien tersebut menggugat Tuhan dan mempertanyakanNya.
Tidak cukup pahit, selama kehamilan, klienku juga mengalami kekerasan dari pacarnya yang baru hingga ia memutuskan untuk mengakhiri hubungan pacaran tersebut. Ketika anaknya sudah berusia dua tahun, pacar lamanya tiba-tiba kembali dan mengakui anak tersebut sebagai anak kandungnya. Pacar tersebut ingin menikahi klien tapi rencana tersebut ditentang habis-habisan oleh keluarga klien yang sudah geram pada sikap pacar yang dianggap tidak bertanggung jawab. Sikap keluarga yang tidak kunjung merestui ini membuat klien terus-menerus berpikiran untuk kabur dari rumah. Kemarahan yang besar pada jalan hidupnya membuat klien tersebut menggugat Tuhan dan mempertanyakanNya.
Kebetulan, terapi yang
kugunakan dalam tesisku juga menyentuh sisi spiritualitas, yaitu bagaimana kita
memaknai perjalanan kehidupan dengan sikap percaya pada kehendak baik Tuhan.
Dalam sesi terapi, klienku sampai pada tahap melihat bahwa perjalanan hidupnya
yang pahit adalah cara Tuhan mengajarkannya untuk bersikap asertif dan gigih
berusaha untuk menghadapi orang lain yang merendahkannya. Maka, ketika ia
memaknai dengan perspektif tersebut, ia merasakan kasih Tuhan dalam hidupnya
sehingga ia bisa menerima perjalanan hidupnya secara menyeluruh hingga
merancang perubahan dalam dirinya.
Maka, ketika keluarganya
kembali menentang rencana pernikahan, ia mengatakan dengan tegas bahwa ia akan
tetap mengambil keputusan untuk menikah dan mengambil tanggung jawab pribadinya
untuk memperbaiki kehidupannya. Hal yang tidak pernah disangkanya adalah dalam
proses yang cukup alot akhirnya keluarga memberikan restu dan dukungan terhadap
rencana pernikahan tersebut. Pada perkembangannya, klien ini juga bisa bersikap asertif dengan suami dalam menjalani pernikahan keduanya.
“Pernahkah terbayang dalam
benak, bahwa ketika minggu kemarin mbak masih merasa sangat marah terhadap
kepahitan hidup, tapi di pertemuan kita selanjutnya, setelah mbak menerima
jalan kehidupan, di minggu ini, mbak berseri-seri mensyukuri rencana pernikahan
ini?”, itulah pertanyaan yang dilontarkan pada klien hingga memunculkan
pemaknaan bahwa satu per satu peristiwa terasa bertubi-tubi karena ia belum
juga memahami pengajaran dari Tuhan. Ketika pengajaran itu dipahami, ia
menyikapi suatu peristwa dengan cara berbeda, dan menghasilkan satu konsekuensi
yang berbeda pula.
Jadi, ketika Tuhan memberikan
skoliosis dan bipolar pada klienku saat ini, apakah itu wujud ketidakadilannya
atau jangan-jangan kasih yang belum dipahami bahasanya? Sebuah pengajaran yang
belum bisa dimaknai apa isinya? Surrender me in the agony of your love, adalah
kalimat yang tiba-tiba terbersit selama konseling tadi. Aku menghayati kalimat
ini sebagai intuisi yang kujadikan pegangan dalam merefleksikan apa yang
sebenarnya terjadi pada klienku.
Dalam proses refleksi
sepanjang konseling, ia menemukan bahwa skoliosis dan bipolar yang dihadapinya
saat ini memang terasa berat tapi dapat
tertangani karena ia mudah mengakses psikiater dan psikolog di kota ini. Hal
ini tentu berbeda dengan aksesibilitas andaikan ia masih berada di kota asalnya
sebelum berkuliah atau andai ia nantinya bekerja di kota lain di masa depannya.
Sementara itu, kondisi ini akhirnya memaksa orangtuanya untuk lebih
memperhatikan dan mengurangi tuntutan yang selama ini membebaninya. Kasih
sayang kedua orangtua yang sejak dulu didambakan itu teretas menjadi sebuah
realita.
Selain itu, sakit ini
mengingatkannya lagi untuk lebih menata pola aktivitasnya sehingga ia berkomitmen
untuk lebih rajin berenang dan menghayati ho’o pono pono dalam kesehariannya.
Kedua aktivitas ini sesungguhnya adalah ritual untuk meletakkan beban yang
selama ini tanpa disadari secara sukarela dipanggulnya.
Berenang adalah tentang memperingan masa tubuh. Ho’o pono pono adalah tentang laku memanusiakan diri dengan cara berterimakasih pada diri sendiri, menyesali perilaku-perilaku yang menyalahi diri sendiri, meminta maaf pada diri sendiri, dan mencintai diri. Sebetulnya, andai ia dapat melihat, sakit ini adalah pengajaran untuknya berhenti membiarkan tuntutan lingkungan bertransformasi menjadi tuntutan diri pada diri sendiri. Kebiasaan yang masih terus dilakukannya dan merugikan dirinya.
Meskipun memang, sesi konseling ini belum sampai pada memaknai pengajaran ini. Namun, dengan ia bisa melihat transformasi positif dalam relasinya dengan orangtua atau perubahan aktivitasnya, tetaplah menjadi hal yang berharga dan bermakna. Meskipun, apakah insight ini akan menjadi perilaku yang dipraktikannya secara konsisten masih menjadi misteri yang baru bisa dievaluasi di pertemuan-pertemuan selanjutnya.
Berenang adalah tentang memperingan masa tubuh. Ho’o pono pono adalah tentang laku memanusiakan diri dengan cara berterimakasih pada diri sendiri, menyesali perilaku-perilaku yang menyalahi diri sendiri, meminta maaf pada diri sendiri, dan mencintai diri. Sebetulnya, andai ia dapat melihat, sakit ini adalah pengajaran untuknya berhenti membiarkan tuntutan lingkungan bertransformasi menjadi tuntutan diri pada diri sendiri. Kebiasaan yang masih terus dilakukannya dan merugikan dirinya.
Meskipun memang, sesi konseling ini belum sampai pada memaknai pengajaran ini. Namun, dengan ia bisa melihat transformasi positif dalam relasinya dengan orangtua atau perubahan aktivitasnya, tetaplah menjadi hal yang berharga dan bermakna. Meskipun, apakah insight ini akan menjadi perilaku yang dipraktikannya secara konsisten masih menjadi misteri yang baru bisa dievaluasi di pertemuan-pertemuan selanjutnya.
Seperti halnya bagaimana aku
berdoa pagi ini, surrender me in the agony of your love, aku percaya bahwa
jalan terjal yang kulalui selama konseling dengan klien ini adalah suatu
pengajaran bagiku yang melatihku untuk menjadi pemandu yang menghargai proses individu. Pemandu yang meletakkan hasrat menjadi pahlawan, yang berarti mengambil
alih tanggung jawab orang lain ke pundakku sendiri. Selayaknya nabi yang
diingatkan berkali-kali bahwa dirinya hanyalah seorang pembawa pesan, tapi
manusia itu sendirilah yang harus mengambil pilihan terhadap iman yang akan
dihayatinya.
Surrender me in the agony of
your love, sebuah doa yang kutemukan di film cin(T)a, yang menguatkanku
menjalani hidupku dalam sikap berserah terhadap kehendakNya yang penuh cinta
kasih, yang semoga mampu aku pahami bahasanya. Amin.
Comments
Post a Comment