Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2019

Goodreads: Reasons to Stay Alive

I wrote my first review in goodreads, check out this link . And it contains this short reflection: lik This book is about Matt's personal story of depression and anxiety. He wrote that depression and anxiety are our risk of being an intelligent human. It reminds my counseling session with a college student who had anxiety that rooted in her overthinking. Then, I said to her that the overthinking was a sign of intelligent people. Unfortunately, she was unaware of this mechanism. therefore the thought was out of control and overwhelming. It went in an undefined direction and confusing her. As Matt's reflection, the thing we need to do is learn how to live with it conciously. We need to be more attentive to ourselves. He used mindfulness to help him to be an observant of his life. As my client is doing right now, she need to sit still, look, recognize, and aware of what are happening inside and outside herself. Then, accept it as her current ways of thinking and reali...

Aksih

Well, I just want to post my edited feed that turns out beautiful. I've decided to delete some posts that no longer brought me happiness. Two of them were my cactus that already dead. I also deleted a photo of my teammates since some of them were just my office partner that I didn't feel closed enough to be called as my teammates. Mates, right? Hehe. Then my very serious posts about books I've read. I've decided that all about my beautiful mind will be posted in my another instagram's account. Then, this account is all about beautiful things in universe on my own perspective. Whenever life gets bored, I hope it will remind me that life is never bore but my perspective is!  "Semoga aku tidak lekas terbiasa dengan dunia." "Amen."

Hei Nic!

Karena dari kemarin sudah nulis yang serius-serius, kali ini aku mau nulis sesuatu yang menyenangkan hati aja lah. Meskipun aku pun tidak tahu apakah nanti akan berakhir kepada tulisan yang serius atau tidak. Yah seperti yang sudah-sudah pasti ada aja yang jadi serius wkwkwk. Jadi hal paling menyenangkan untuk dibicarakan adalah fangirling hehehe, kepada my eternal dreamboy, Nicholas Saputra. Selayaknya remaja pada umumnya, awal suka sama Nicho karena ganteng lah dan cool abis ketika memerankan Rangga di AADC. Apalagi dia di situ bikin puisinya asik banget. Gara-gara ini juga, aku jadi membaca buku “Aku” yang ternyata tidak seindah andai itu dibacakan oleh Nicho. Hahaha. Setelah itu, masih suka sekali dengan Nicho. Karena dia kalo main film nggak pernah main-main. Dia pemilih banget jadi tiap nonton film yang dibintangi Nicho tu semacam udah disaringin dulu sama dia ini film bagus apa nggak. Dan di setiap filmnya tetap aja cool banget. Dari situ kemudian aku paham yang bikin N...

Curhat Tesis

Ketika hidup berisikan peristiwa yang menyenangkan maupun menyakitkan, yang perlu dilakukan adalah menerimanya sebagai perjalanan hidup. Dan seperti kata Pram, bahwa apa yang membuat hidup sedemikian kaya adalah bagaimana cara kita memaknainya. Kemarin, aku mengerjakan data tesisku. Aku mulai melakukan analisis kuantitatif yang ternyata cukup rumit juga. Dag dig dug, rasanya sangat tidak karuan hatiku ketika satu per satu hasil analisis tersingkap. Mungkin ada rasa kecewa ketika aku berhadapan dengan data-data itu karena tidak seperti yang kuharapkan. Saat itu, “Yah Tuhan aku ingin lari”, tampaknya adalah suara hati yang bersuara keras di diriku. Eh, atau halusinasi? Hehe. Namun, aku tahu bahwa keinginanku untuk lari ini hanyalah usaha menunda rasa sakit. Oleh sebab itu, aku tetap berusaha menghadapinya hingga selesai. Hamdalah, berhasil. Namun, kegalauan kembali muncul karena dengan analisis kuantitatif yang sudah lengkap, aku sama sekali tidak punya gambaran apa sebenarnya ke...

Untuk H dan T : yang belajar mengenali lagi wajah tuhan dalam ketidakberdayaannya

Dari siapa Kami belajar Wajah Tuhan yang begitu menakutkan Dari siapa Kami belajar Menyalahkan diri Mengharapkan ampunanNya Atas perlakukan seorang laki-laki Yang kami pun tidak ingini Dari siapa Kami belajar Tubuh kami terlalu kotor menghadapNya ketika Ia lah yang kami butuhkan sebagai penenang Dari siapa Kami belajar Merasa malu Pun tak pantas menghadapNya Ketika Ia lah yang kami butuhkan Sebagai penolong Dalam impitan ketidakberdayaan Kepada siapa Kami belajar Wajah tuhan Penuh cinta kasih Penuh pertolongan Penuh ampunan Penuh ketenangan Tiada mempermalukan #surviving adalah proyek menulis puisi berdasarkan pengalaman klien-klien yang kudampingi setelah kekerasan terjadi dan mengubah hidup mereka

Untuk A : yang menyadari pikiran lelaki ini adalah patriarki yang hakiki

Di pantai Angin yang asin menggelitik Damai dan asyik Bermain-main dengan pikiranku Tangan itu Menyampirkan jaket di pundakku Santun pikirku Ketika mulut itu dengan senyum terkembang Berkata “hati-hati, terlalu menerawang” Pikiranku Oh naifnya dirimu Tangan itu Tak pernah bersikap santun Ketika ia menyampirkan jaket di pundakku Tangan itu Tak pernah bersikap santun Ketika di malam itu Ketika tiada sesiapapun selain diriku Ketika ia meraba tubuhku Membekukanku Membuatku malu Membungkam keenggananku Menakutiku kemarahanku Tangan itu Adalah tangan kanan pikirannya Yang tertutupi oleh nafsu Atas tubuhku Yang tak melihat kemanusiaan Dalam keperempuananku Yang terbenarkan oleh dogma Aku adalah warga kelas dua Pantas dikuasai Pantas dilindungi Tak pantas memegang teguh otoritasku sendiri #surviving adalah proyek menulis puisi berdasarkan pengalaman klien-klien yang kudampingi setelah kekerasan terjadi dan mengubah hidup mereka.

Untuk O : yang tak lagi merasa aman dalam kamar kosnya sendiri

Hanya aku yang tahu Sebilah pisau di bawah bantalku tak pernah ada yang tahu apa yang mengintai di balik tirai itu Sebilah pisau Di bawah bantalku ingin kubunuh was-was-ku #surviving adl proyek menulis puisi berdasarkan pengalaman klien-klien yang kudampingi setelah kekerasan terjadi dan mengubah hidup mereka.

Being psychologist: when my professional matter mingled with my personal life

Counselling is the most magical thing happened in my magic life . Beberapa bulan belakangan ini, aku kembali aktif di Rifka Annisa sebagai konselor psikologi. Sebuah keputusan yang tidak mudah sebetulnya mengingat aku masih mengerjakan tesis. Apalagi aku bukanlah orang yang multitasking. Biasanya aku akan menolak mengerjakan dua hal yang berbeda sekaligus. Apalagi ketika keduanya memerlukan energi yang luar biasa besar. Terbayang kan ya mengerjakan tesis. Terbayangkan ya mendengarkan cerita yang berkelindan erat dengan emosi negatif. Dan, aku bukanlah tipe orang yang punya banyak energi. Kondisi fisik yang sejak kecil mudah sakit membuatku mudah merasa lelah. Kepribadianku yang cenderung introvert juga membuatku mudah kehilangan energi di dunia yang ramai oleh interaksi sosial ini. Meskipun dengan berbagai kondisi tersebut, aku memutuskan untuk kembali ke Rifka Annisa sebagai konselor karena seperi kata Dilan, rindu itu berat. Ya, aku rindu bersentuhan secara langsung dengan is...