Karena dari kemarin sudah nulis yang serius-serius, kali ini aku mau nulis sesuatu yang menyenangkan hati aja lah. Meskipun aku pun tidak tahu apakah nanti akan berakhir kepada tulisan yang serius atau tidak. Yah seperti yang sudah-sudah pasti ada aja yang jadi serius wkwkwk.
Jadi hal paling menyenangkan untuk dibicarakan adalah fangirling hehehe, kepada my eternal dreamboy, Nicholas Saputra.
Selayaknya remaja pada umumnya, awal suka sama Nicho karena ganteng lah dan cool abis ketika memerankan Rangga di AADC. Apalagi dia di situ bikin puisinya asik banget. Gara-gara ini juga, aku jadi membaca buku “Aku” yang ternyata tidak seindah andai itu dibacakan oleh Nicho. Hahaha.
Setelah itu, masih suka sekali dengan Nicho. Karena dia kalo main film nggak pernah main-main. Dia pemilih banget jadi tiap nonton film yang dibintangi Nicho tu semacam udah disaringin dulu sama dia ini film bagus apa nggak. Dan di setiap filmnya tetap aja cool banget. Dari situ kemudian aku paham yang bikin Nicho cool adalah kontak matanya yang tajam. Ya Tuhan. Bahkan ya di film Aruna dan Lidahnya yang dia itu supposed to be santai di pantai tetep aja coolnya dapat. Bahkan keberadaan Nicho di film itu sesungguhnya lebih lezat dibandingkan berbagai kulinernya hahahaha.
Keberadaan, alias kehadiran. Atau kalo boleh bikin istilah sendiri, his presence itu gedhe banget dan mengagumkan. Nicho gak ngapa-ngapain aja sangat terasa loh kehadirannya. Bisa dicek di beberapa video klip yang literally dia itu gak ngapain-ngapain. Namun apa ya, mungkin dari gesture aja menunjukkan bahwa hey I am here.
Awalnya sih aku mikirnya gitu.
Namun, seminggu yang lalu aku nonton video dia pas diundang ngisi talkshow tentang green technology oleh bukalapak. Di situ lah kemudian aku paham bahwa kehadirannya Nicho bukan karena dia menunjukkan hey here I am tapi gesturenya dia adalah hey how do you do? Paham gak sih, semacam karena dia itu atentif ke orang lain maka orang lain jadi atensi balik ke dia. Jadi di talkshow itu si Nicho ini sangat sederhana sekali, penampilannya. Bahkan ketika dia ngomong tuh sederhana banget bahasa yang digunakan tapi kena lah poin-poinnya. He didn’t talk too much. Udah secukupnya. Tapi kontak matanya intens banget lah ngeliatin lingkungan di sekitarnya. Dia gak keliatan lagi wondering something out there atau something in himself. Dan dengan santainya dia bisa interaksi ke audiens di situ secara setara. Bukan dalam sikap, hei aku Nicholas Saputra lho. Dia bener-bener dengerin tuh ketika audiensnya ngomong lalu ya itu ditanggapi secukupnya dengan sikap yang atentif. Charming banget gak sih.. hahaha..
Mungkin benar ya kata orang kalo kita udah nyaman betul dengan diri kita sendiri, maka kita bisa fokus untuk memperhatikan orang lain. Ketika kita udah damai, kedamaian itu akan dirasakan orang lain. Ketika kita udah bahagia, kita bisa berbagi kebahagiaan ke orang lain.
Dan itu semakin keliatan ketika tadi di kantor hahahaha kita nobar dong Nic and Mar setelah sekian kali nonton. Tapi ya ampun tetep aja ya histeris. Apalagi pas dishoot mereka makan bareng terus Nic ceritanya ngelietin Mar tapi dishoot direct ke kamera jadi kek lagi ngelietin kita yang nonton. Sungguh meleleh banget, bisa lho ya orang menatap orang seintens itu, sebikin salah tingkah itu. Mana omongannya kena e di hati. Misal nih ya, nyaman aja ternyata gak cukup ya, we need a partner who also share the same dreams. Jeezz.
Ato misalnya, susah banget cari teman traveling yang cocok. Yap benar banget!
Nah, pas nonton ini aku jadi mikir juga ke diriku sendiri. Dulu jaman kuliah S1 boleh dibilang aku sangat tertarik dengan hal-hal yang berbau traveling. Buku yang dibeli aja punya Agustinus Wibowo macam Selimut Debu dan Titik Nol, hehehe. Namun, setelah kerja terutama dan berlanjut hingga saat ini aku jadi anak yang rumahan banget. Lebih senang sendirian di rumah, memberi ruang sebesar mungkin untuk diriku sendiri. Kalau diajak jalan-jalan tuh ya nggak segirang dulu, pasti memastikan dulu mau kemana, di sana mo ngapain, dan sama siapa. Kadang tuh baru bayangin aja udah capek. Jadinya tanpa disadari aku jadi orang yang gak suka main. Suka diejekin nih di kantor secara aku masih cukup muda dibandingkan teman-teman kantor lain tapi malah paling gak gaul karena ga suka jalan-jalan.
Nah balik lagi ke Nicho, yah seperti semua orang sudah tahu dia hobi banget jalan-jalan. Cantik-cantik lagi fotonya. Lalu pas nonton Nic and Mar, Nicho bilang kalau jalan-jalan sendiri tu enak, gak harus ngikutin orang lain. Ya ampun iya betul banget kayaknya ini deh yang aku males banget dengan jalan-jalan sekarang yang kebanyakan untuk kepentingan foto dan Instagram. Dan lelah banget mengikuti yang demikian itu. Tapi ya meski pun jalan sendiri tapi dengan tren wisata sekarang yang sedemikian rupa ya sama aja isinya ku pergi ke pantai belok ke hutan isinya banyak orang. Menyesakkan sekali mungkin itu bagiku.
Lucunya, malam hari, obrolan tentang Nicho malah berpindah ke ruang whatsapp. Ceritanya aku dikirimin beberapa videonya Nicho, katanya buat pengantar tidur. Ya elah mana ada ya malah ga jadi tidur mah. Nah, salah satu videonya itu tentang Nicho dan jalan-jalan alam nya. Lietnya aja udah asik gimana ngelakuinnya ya. Di video itu ada semacam narasi pendek gitu. Kek misal bilang pergi ke alam itu menjaga akar. Atau alam tidak mengenal ras, agama, dan apa ya aku lupa. Dia menerima siapapun tanpa syarat. Alam akan menerima siapapun yang juga respect ke alam. Dan selama melihat video itu sungguh tenang banget rasanya dengan kesunyiannya.
Apalagi ada Nicho di situ hehehe yang god damn he was enjoying himself! Di situlah aku iri setengah mati, ada ya orang yang bisa segitu nyamannya dengan diri sendiri? Kalo kata Rupi Kaur, before having any relationship with others, we need to make a good relationship with ourselves first. Mungkin itu ya ketika sudah nyaman dengan diri sendiri, sudah tidak sibuk memperhatikan diri sendiri, maka atensi ke orang lain itu bisa penuh, begitu juga atensi ke situasi di luar diri jadi mawas juga sehingga ketika memberikan respon bisa di takaran yang pas. Gak terlalu pait, gak terlalu manis. Pas. Ketika kita sudah tenang di dalam diri, kita juga bisa tenang menghadapi situasi dan orang lain.
Dan alam, adalah salah satu pengingat terhadap ketenangan itu.
Apalagi alam itu pasti akan berjalan sesuai dengan hukum alam, hukum Tuhan. Nabi Muhammad aja sebelum menjalankan tugas kenabian dan jengah sama ritual berhala bangsa Arab kala itu, memilih untuk secara teratur menyendiri di Gua Hira untuk menghayati alam dan menjauh dari hiruk pikuk manusia sebagai cara lebih dekat ke Tuhan. Jadi sebetulnya dengan melakukan perjalanan dan menghayati alam, sebetulnya kita sedang membaca tanda-tandaNya yang paling tidak terdistorsi, dan menjadi pengingat diri untuk berjalan sesuai dengan kehendakNya.
Contoh pengingatnya, ya misal seperti itu, alam akan menerima siapapun yang menghargainya. Atau alam selalu berputar dalam suatu siklus seperti hidup kita pastilah mengikuti ritmik sebuah siklus. Sama seperti halnya aku menghayati prosesku bermain dengan air (sebagai bagian dari alam) ketika berenang, aku jadi memahami untuk bersikap tenang, mengelola langkah, membangun kepercayaan, dan tidak tamak terhadap kehidupan.
Tuh kan jadi serius as usual hahaha.
Itulah sebabnya mungkin ya, tadi malam pas whatsapp an sama temanku, tiba-tiba aku bilang: kayaknya aku mau kembali coba buat traveling lagi, by myself selama belum dapat teman perjalanan yang menyenangkan daripada capek ngikutin orang, dan balik lagi ke alam yang belum terjamah kerakusan manusia.
Nulis ini jadi menyadari fangirling itu bermanfaat loh ternyata. Hehehe. Padahal awalnya aku nulis ini buat menghentikan rasa gemash ku ke Nicho tapi ternyata ya sudah emang dia dan hidupnya itu menggemaskan kok. Btw, terakhir nih puja puji kerang ajaibku but Nicho, dia ini balance lho idupnya. Dia secara intelektual juga terasah. Masak pas dia SMA udah baca Catatan Seorang Demonstran dan mengidolakan Gie. Itu kan gila ya, uda sampe aja di situ yang dikunyah-kunyah dengan lezat. Apalah aku remah-remah rempeyek pas SMA malah jarang baca, kebanyakan main, dan ngikutin orang lain. HAHAHAHAHA.

Comments
Post a Comment