Skip to main content

Posts

Showing posts from November, 2018

Menonton Prenjak

Aku mendengar film ini pertama kali tampaknya beberapa tahun yang lalu di FFD. Namun, baru bisa menontonnya semalam, secara tidak terduga. Dan secara tidak terduga juga, inilah Prenjak. Seorang perempuan dan seorang laki-laki memasuki sebuah ruangan yang tampak seperti gudang. Mereka berdua tampak terburu-buru. Si laki-laki terus-menerus mengeluh bahwa ia harus segera melanjutkan kerjanya, bahwa ini bukan waktu yang tepat bagi mereka mengambil istirahat. Tampaknya mereka adalah rekan kerja. Tanpa menggubrisnya, si perempuan langsung menata meja, memasang taplak, dan menyiapkan dua buah kursi yang diposisikan berseberangan, saling berhadapan. Si perempuan duduk dan meminta si laki-laki duduk. Dengan tegas ia katakan, aku butuh uang seratus ribu rupiah dan aku akan menjual sebatang korek ini seharga sepuluh ribu rupiah. Semenjak awal, film ini kental menyuguhkan suasana konflik. Diawali dengan sebuah ketidaksepakatan. Lalu penawaran yang rasanya tidak masuk akal. Sepuluh ri...

Life is...

Beberapa hari ini aku sedang menyibukkan diri dengan aktivitas konseling. Bahkan bisa dibilang nyaris dua minggu ini aku sangat sedikit menyisihkan waktu untuk mengerjakan tesis. Antara memang sedang tidak ada pekerjaan tesis yang sedang perlu berproses, merasa jenuh, atau memang merasakan betapa ruang konseling membuatku nyaman. Meskipun terdapat berbagai penjelasan, pada awalnya aku langsung menghakimi bahwa aku memang sedang escape, melarikan diri. Temporary escape has a permanent price, wkwkwk, quote lagi, dari the man I really couldn’t have. Sampai kemudian aku menceritakan pada temanku, dan, yah, sekalipun aku escape pun hal yang kulakukan adalah sesuatu yang bermanfaat. Dari situlah aku mencoba memahami apa yang   sedang terjadi pada diriku dan beropini bahwa ada tiga kemungkinan tersebut. Setiap harinya aku nyaris melakukan konseling minimal dua klien setiap harinya. Klien-klien dengan kebutuhan psikologis yang cukup berat, tapi memi...

Karena perjalanan spirituil tak melulu di kuil

Semalam, 23 November 2018, Hari Jumat, aku membulatkan niat untuk ngonser Elephant Kind di PKKH. Awalnya ragu, karena baru sebulan yang lalu nonton mereka. Namun, karena EK cukup jarang main di Jogja, yah, kapan lagi. Akhirnya berangkatlah setelah kelar urusan kampus lepas maghrib, menyempatkan numpang mandi di kos ijah sekaligus titip tas segede gaban. Lalu berangkat ke PKKH untuk ngegig dengan pakaian dinas ke kampus seharian ini: flat shoes hitam, celana kain hitam, blus hitam, dan kerudung coklat. Hanya berganti tas kecil motif etnik. Aku datang tanpa ekspektasi apapun. Kecuali yakin bahwa seperti biasa, aku pasti bisa dapat spot yang ciamik di depan pangung persis ehehehe. Dan keyakinan itu semakin besar ketika masuk ke PKKH masih sepi banget, nyet. Baru kali ini sepertinya bisa menikmati band-band pembuka yang antah berantah. Mungkin karena mereka membawakan lagu populer kesukaanku, seperti C oldplay, dan musikalitas mereka lumayan bagus. Kualitas sound juga cukup je...