Aku mendengar film ini pertama kali tampaknya beberapa tahun yang lalu di FFD. Namun, baru bisa menontonnya semalam, secara tidak terduga. Dan secara tidak terduga juga, inilah Prenjak. Seorang perempuan dan seorang laki-laki memasuki sebuah ruangan yang tampak seperti gudang. Mereka berdua tampak terburu-buru. Si laki-laki terus-menerus mengeluh bahwa ia harus segera melanjutkan kerjanya, bahwa ini bukan waktu yang tepat bagi mereka mengambil istirahat. Tampaknya mereka adalah rekan kerja. Tanpa menggubrisnya, si perempuan langsung menata meja, memasang taplak, dan menyiapkan dua buah kursi yang diposisikan berseberangan, saling berhadapan. Si perempuan duduk dan meminta si laki-laki duduk. Dengan tegas ia katakan, aku butuh uang seratus ribu rupiah dan aku akan menjual sebatang korek ini seharga sepuluh ribu rupiah. Semenjak awal, film ini kental menyuguhkan suasana konflik. Diawali dengan sebuah ketidaksepakatan. Lalu penawaran yang rasanya tidak masuk akal. Sepuluh ri...