Skip to main content

Menonton Prenjak



Aku mendengar film ini pertama kali tampaknya beberapa tahun yang lalu di FFD. Namun, baru bisa menontonnya semalam, secara tidak terduga. Dan secara tidak terduga juga, inilah Prenjak.

Seorang perempuan dan seorang laki-laki memasuki sebuah ruangan yang tampak seperti gudang. Mereka berdua tampak terburu-buru. Si laki-laki terus-menerus mengeluh bahwa ia harus segera melanjutkan kerjanya, bahwa ini bukan waktu yang tepat bagi mereka mengambil istirahat. Tampaknya mereka adalah rekan kerja. Tanpa menggubrisnya, si perempuan langsung menata meja, memasang taplak, dan menyiapkan dua buah kursi yang diposisikan berseberangan, saling berhadapan. Si perempuan duduk dan meminta si laki-laki duduk. Dengan tegas ia katakan, aku butuh uang seratus ribu rupiah dan aku akan menjual sebatang korek ini seharga sepuluh ribu rupiah.

Semenjak awal, film ini kental menyuguhkan suasana konflik. Diawali dengan sebuah ketidaksepakatan. Lalu penawaran yang rasanya tidak masuk akal. Sepuluh ribu rupiah untuk sebatang korek!

Perjanjiannya, dengan sebatang korek tersebut, si laki-laki boleh melihat vagina si perempuan dari kolong meja. Waktunya sesuai dengan seberapa lama korek tersebut dapat bertahan. Syarat lain, hanya boleh dilihat dan tidak boleh dipegang.

Si laki-laki menyetujui. Ia membayar sepuluh ribu untuk satu korek dan melakukan sesuai dengan kesepakatan. Korek menyala, bergerak di antara paha, tampak samar lalu secara jelas vagina si perempuan.  Lalu, terdengar nada kesal ketika sebatang korek tersebut akhirnya padam, padahal baru sebentar. Akhirnya. Ia membeli lagi tiga korek sekaligus.

Bagi si perempuan, ini hanyalah transaksi yang ia lakukan karena ia membutuhkan uang tersebut untuk suatu kebutuhannya yang mendesak. Namun, bagi si laki-laki, transaksi ini pada akhirnya menimbulkan kesenangan pada dirinya. Raut mukanya menampakkan bahwa ia telah dibuat birahi karenanya. Ia mulai membawa transaksi ini ke hal yang sifatnya personal. Tentang asmara. Tentang pernikahan. Tentang yang privasi. Tentang berbagai hal yang mengganggu dan mengusik si perempuan yang selalu dijawabnya dengan ketus.

Lalu, si laki-laki membuat penawaran kembali agar si perempuan mau melihat penisnya, dengan cara yang sama seperti yang baru saja ia lakukan. “Sepuluh ribu”, harga yang sama seperti yang ia bayarkan. “Wegah!”, jawab si perempuan. “Lima ribu”, si laki-laki menurunkan harga. “Wegah!”, si perempuan bersikukuh. “Tidak usah membayar”, kata si laki-laki.” Wegah!”

“Aku kasih kamu enam puluh ribu biar pas duitmu jadi seratus ribu”, tawar si laki-laki lagi. Si perempuan terdiam sejenak, ia terhenyak, lalu mengiyakan.

Si laki-laki menerapkan peraturan yang persis sama dengan kesepakatan sebelumnya. Hanya satu yang berbeda, korek yang digunakan adalah korek gas dan lamanya waktunya adalah tiga puluh hitungan.

Si perempuan lalu menelusup ke kolong meja. Ia menyalakan korek gas, si laki-laki menghitung, tapi si perempuan memalingkan wajahnya dan matanya tertutup rapat. Ia tak mau melihat. Sementara itu, si laki-laki tersenyum senang dengan imajinasinya sendiri tanpa tahu bahwa si perempuan sebenarnya tidak melihat. Ia hanya butuh uang.

Mendekati hitungan ke dua puluh lima, si laki-laki mulai melambatkan tempo hitungannya. Si perempuan pun mulai ragu. Mendekati batas akhir waktu, ia mulai mengintip. Dan di hitungan ke dua puluh delapan akhirnya ia membuka mata. Di depannya tampak penis yang sedang ereksi. Ia terhenyak. Bahkan tak lekas sadar bahwa hitungan sudah mencapai angka ke tiga puluh. Si laki-laki mulai mengingatkan bahwa waktunya sudah habis. Dan si perempuan pun keluar dari kolong meja. Bersikap biasa saja. Atau lebih tepatnya, berusaha agar tampak biasa saja.

Film ini ditutup dengan si perempuan memandikan anak laki-lakinya yang masih berusia mungkin 5 tahun. Kamera merekam tubuh si anak laki-laki dari kepala, leher, dada, tangan, dan perlahan-lahan menampakkan penis si anak laki-laki. Dari cara kamera tersebut bergerak, kita dapat merasakan adanya keraguan di dalam si perempuan. Ada hasrat yang mungkin kini ia sadari. Namun, ia tepis seketika ketika si anak laki-laki bertanya, “Bu., bapak dimana?”, “Embuh”, jawab si perempuan ketus.

Dan film pun berakhir.

Film yang singkat, tapi bagiku seperti berbicara banyak hal tentang yang selama ini tidak pernah dibicarakan. Ketabuannya membuatnya sulit dibicarakan secara lugas. Ketabuannya seringkali membuatnya diselimuti oleh rasa malu, yah, seperti istilahnya yang melembutkan: kemaluan. Ketabuannya pula yang justru membuat ia sulit diperlakukan secara biasa, alih-alih, justru dijadikan guyonan yang melecehkan.

 Namun, Prenjak bagiku berhasil menghantarkan omongan tentang seksualitas dengan apa adanya tanpa terasa vulgar, malu, atau melecehkan. Meskipun demikian, memang tidak dipungkiri pada beberapa orang mungkin saja akan merasa sangat tidak nyaman ketika melihat scene vagina atau penis selama beberapa detik. Apalagi bila menontonnya dalam layar yang besar, di suasana nobar. Mungkin rasa batas privasinya terasa terlanggar. Aku pribadi memahami hal tersebut. Namun, aku merasa justru scene ini adalah scene yang penting dalam Prenjak. Aku cukup terkesima bagaimana film ini dapat secara gamblang menunjukkan secara visual penis dan vagina secara seimbang tanpa terasa melecehkan. Seakan-akan ia ingin berkata, inilah apa adanya, tanpa perlu ada yang disamarkan. Ke-apa-adaan-nya pula yang membuat film ini tidak mereproduksi narasi yang terus-menerus diciptakan untuk mengobjektifikasi perempuan. Justru, ia menempatkan dan membukakan perspektif bahwa laki-laki dan perempuan merupakan subjek dari seksualitas mereka sendiri.

Di sisi lain, film ini sebenarnya juga membicarakan tentang perbedaan si laki-laki dan si perempuan dalam memaknai seksualitasnya. Bagaimana bagi si perempuan yang seksual bisa dijadikan sebagai modal bertransaksi untuk melanjutkan hidup. Sementara itu, bagi si laki-laki maka yang seksual adalah yang menimbulkan kesenangan. Ada perbedaan motif antara si laki-laki dan si perempuan sehingga transaksi ini akhirnya bisa berjalan.

Meskipun demikian, secara tersirat film ini ingin berbicara bahwa baik si laki-laki dan si perempuan sebetulnya sama-sama memiliki hasrat terhadap yang seksual. Hanya saja, si laki-laki dapat mengekspresikannya secara lugas. Namun, bagi si perempuan justru menimbulkan konflik dalam dirinya sendiri. Mungkin, ia yang selama ini menganggap seksualitasnya hanyalah sebagai komoditas, untuk suaminya, untuk mendapatkan uang, kini tersadar bahwa ia pun adalah subjek yang membutuhkan seks itu sendiri sekaligus subjek yang menolak kebutuhan itu sendiri.

Tidak ada resolusi tertentu di film ini. Tidak ada nilai moral yang mungkin kalian inginkan ketika membicarakan tentang seksualitas. Namun, aku yakin film ini membuka banyak ruang diskusi di benak banyak orang, di sela percakapan selepas nobar, dan di kehidupan sehari-hari kami para penontonnya.

Eniwei, kenapa judulnya Prenjak ya?

Comments