Dalam kondisi berbaring, aku pun menutup mataku ketika terapis mulai menyentuh titik-titik tertentu yang diasumsikan selayaknya gerbang energi dari berbagai hal. Lalu, terapis beralih memegang kedua telapak tanganku dan berucap, “dingin ya tangannya, kamu punya sakit?” aku berpikir sejenak dan mulai merasakan punggungku yang memberat, lalu kujawab “hmm, punggungku mudah sakit sih mbak.” “bukan, kalau penyakit dalam?” Ku buka mataku. Aku terhenyak dalam kesadaran baru, akankah hal yang selama ini kukhawatirkan benar-benar terjadi? “aku dulu ada kista mbak, tahun 2015 tapi sudah dioperasi.” “oh ya kista. Tapi udah dioperasi kan ya?” “sudah mbak.” Kututup pembicaraan ini, kututup juga lagi mataku. Kukatakan pada diriku bahwa biarkanlah, rasakanlah apapun yang hadir, nanti akan ada waktunya kita bertanya lagi ke terapis tentang apa yang dikhawatirkan. Perlahan, aku merasa punggungku menghangat. Lalu, perut sebelah kiriku mulai terasa lebih berat hingga aku menyadari keberadaan...