Dalam kondisi berbaring, aku pun menutup mataku ketika terapis mulai menyentuh titik-titik tertentu yang diasumsikan selayaknya gerbang energi dari berbagai hal. Lalu, terapis beralih memegang kedua telapak tanganku dan berucap, “dingin ya tangannya, kamu punya sakit?” aku berpikir sejenak dan mulai merasakan punggungku yang memberat, lalu kujawab “hmm, punggungku mudah sakit sih mbak.”
“bukan, kalau penyakit dalam?”
Ku buka mataku. Aku terhenyak dalam kesadaran baru, akankah hal yang selama ini kukhawatirkan benar-benar terjadi?
“aku dulu ada kista mbak, tahun 2015 tapi sudah dioperasi.”
“oh ya kista. Tapi udah dioperasi kan ya?”
“sudah mbak.”
Kututup pembicaraan ini, kututup juga lagi mataku. Kukatakan pada diriku bahwa biarkanlah, rasakanlah apapun yang hadir, nanti akan ada waktunya kita bertanya lagi ke terapis tentang apa yang dikhawatirkan.
Perlahan, aku merasa punggungku menghangat. Lalu, perut sebelah kiriku mulai terasa lebih berat hingga aku menyadari keberadaannya. Kuhela nafasku agar aku lebih tenang dan mau menerima sensasi apapun. Kunikmati saja hingga kurasakan darah menstruasi mengalir deras. This is it.
Dua jam sebelumnya, aku sudah mulai agak curiga bahwa aku menstruasi lagi. Namun, pikiranku yang lain menepis, bisa juga hanya cairan vaginal saja. Lalu, karena aku tidak merasa ada pergerakan lain, aku tetap merasa aman dan nyaman. Toh, kalo menstruasi lagi juga masih keluar sedikit seperti yang sudah-sudah.
Aku tidak tau apa yang terjadi, setelah dua jam berlalu, dalam kondisi berbaring, tiba-tiba saja aku merasa betul yakin bahwa aku menstruasi lagi. Padahal baru seminggu berselang dari menstruasi terakhirku. Yang, juga hanya berselang satu minggu dari menstruasi sebelumnya.
Perasaanku mengambang. Aku ingin menangis sekarang ketika menuliskannya.
Setelah terapi energi diselesaikan, aku mendekati terapis untuk menanyakan apa yang terjadi. Ia mengungkapkan bahwa ia merasa energiku dingin yang biasanya menjadi pertanda ada yang kurang beres di organ dalam. Namun, katanya, aku tidak perlu khawatir, toh sudah dioperasi.
Aku pun menyampaikan bahwa meski sudah dioperasi, hasil labnya memang menunjukkan bahwa kista yang ada di tubuhku saat itu adalah jenis yang mungkin tumbuh lagi. Oleh sebab itu, aku khawatir. Apalagi sebulan ini aku sedang berhadapan dengan siklus menstruasi yang janggal.
Aku khawatir sekaligus berterimakasih karena informasi dari terapis menjadi sinyal kuat dari tubuhku bahwa aku perlu segera memeriksakan lagi ke dokter obsgynku. Terapis mengangguk dan menyampaikan bahwa terapi energi juga bisa membantu untuk memulihkan kista salah satu kliennya dulu. Ya aku pun mau begitu. Aku sudah ngeri membayangkan harus terkapar lagi merasakan nyeri selepas operasi.
Ketika perjalanan pulang, aku membicarakan hal ini dengan temanku. Ia menenangkanku, semoga semuanya baik-baik saja. Semoga aku mendapatkan penjelasan secepatnya. Aku mengiyakan dan merencanakan akan memeriksakan diri setelah lebaran dan selepas segala urusan tesis ini selesai. Namun sesungguhnya, aku sedang digelanyuti rasa sedih dengan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
.
Lalu, dalam perjalanan pulang yang lain dari daerah Gejayan, sembari berkendara, ada pemikiran yang tiba-tiba muncul dan menghadirkan rasa syukur. Aku teringat dengan sebuah cerita di buku Sapiens bahwa di jaman berburu dan meramu dulu, orang-orang tua atau sakit seringkali menyusahkan manusia untuk berpindah tempat atau mencari buruan. Oleh sebab itu, terkadang gerombolan pun memutusukan untuk membunuh para orang tua atau orang sakit yang merepotkan itu. Untunglah, aku tidak dilahirkan di jaman itu. Mungkin aku sudah tidak lagi hidup sebelum berakhir masa remajaku.
.
Sejak kecil, aku memang memiliki kondisi fisik yang lemah. Aku meminum obat selama tiga tahun untuk sembuh dari flek. Aku selalu di kondisi terendah di kelas ketika pelajaran olahraga. Ketika upacara bendera, aku adalah pelanggan UKS karena sering pingsan. Kebiasaan ini terus terjadi hingga aku SMP. Bahkan ketika aku SMA, aku pernah pingsan di pusat perbelanjaan yang terlalu sesak. Aku juga selalu menolak memasuki pasar yang menjamin kebiasaan pingsanku akan kembali kumat.
Ketika kelas 5 SD, aku tidak bisa berlari karena jantungku akan berdegub sangat kencang dan aku jadi sesak nafas. Hingga kemudian hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa aku mengidap bronchitis. Di masa terparah itu, deguban jantungku bahkan sangat kencang meski aku hanya berjalan sedikit. Aku punya ingatan yang membuatku sedih, saat itu aku dalam kondisi sakit, berbaring, dan aku melihat dadaku naik turun cepat sekali. Kondisi ini untungnya tidak berlarut-larut seperti ketika aku sakit flek dulu.
Aku melihat diriku sebagai anak yang lemah. Aku sangat membenci pelajaran olahraga. Aku sempat menangis ketika ujian praktik di kelas 3 SMP, aku menjadi satu-satunya anak yang tidak bisa melakukan senam lantai rol belakang. Di SMA, aku memutuskan untuk mengambil jalan pintas ketika olahraga lari. Sialnya, temanku melaporkanku hingga aku diblacklist oleh guruku. Aku sangat marah. Saat itu, aku memang mengambil jalan pintas, tapi aku tetap memposisikan diriku di urutan terakhir. Aku hanya tidak ingn lelah, dan menjadi lemah, dan sakit. Persetan dengan nilai yang sering kalian perebutkan itu bahkan dengan cara curang. Mungkin bila saat itu aku sudah punya kesadaran yang baik terhadap diriku, itu adalah pikiran yang ingin kumuntahkan dengan meletup-letup. Kenapa kamu tidak mau mencoba memahami dulu posisiku dan hanya mengikuti asumsimu?
Kondisiku cukup tenang ketika kuliah karena untuk pertama kalinya aku terbebas dari pelajaran olahraga yang menyebalkan. Kukira begitu. Lucunya, aku malah mulai mencoba-coba olahraga senam body language dan berenang. Yang terakhir, menjadi salah satu hal kesayanganku hingga saat ini. Lucu ya? Hal yang kamu benci setenga mati, menjadi hal yang lalu kamu gemari?
Sejak kuliah, aku mulai melupakan sisi diriku yang lemah karena memang tidak banyak hal yang menstimulasi pikiran itu untuk muncul. Aku hanya merasa mudah lelah yang saat itu kuduga sebagai gejala distimia. Hahahaha, dasar anak baru ngrasain psikologi jadi hobinya diagnosis diri sendiri. Saat itu aku sangat yakin aku mengalami distimia sih memang karena moodku pun cenderung depresif. Meski kukira saat ini aku sadar bahwa ya aku memang mudah lelah juga karena kondisi fisikku, sebab meski sekarang aku sering di mood yang baik pun tetap aja mudah lelah.
.
Ketika di masa bekerja, aku didiagnosis kista, aku cukup terguncang sejujurnya. Saat itu, aku tidak melihat diriku yang lemah muncul. Namun, pikiranku dipenuhi pertanyaan tentang kenapa deh fungsi reproduksi bermasalah padahal aku kan tidak aktif secara seksual? Hahaha naif sekali ya, padahal sejak puber organ reproduksiku kan sudah berfungsi dalam proses menghasilkan sel telur, tidak terjadi pembuahan, menstruasi, begitu terus berkali-kali. Saat itu, kista mengguncang bagaimana aku memandang diriku sebagai perempuan yang akan kutuangkan di tulisan yang lain, semoga ga wacana, hahaha.
Setelah operasi, dokter bilang bahwa kistaku bisa saja muncul lagi. Penyebab yang jelas tentu hormonku. Namun, belum diketahui apa yang menjadi pemicu. Katanya, kalo aku segera menikah dan punya anak maka hormonku akan stabil dan kistanya kemungkinan besar tidak tumbuh lagi. Wah, aku langsung ketawa ngakak dalam hati. Berat syaratnya dok! Lalu, katanya lagi, yah kalo belum mau menikah masih suka cari duit buat diri sendiri, ada tiga hal yang perlu dikelola: tidur di bawah jam 11, pola makan agar berat badan tidak naik turun drastis, dan kelola stress. Hahaha sama aja berat dok! Tapi lebih ringan lah daripada menikah.
Tiga bulan pasca operasi, aku benar-benar menjaga pola hidupku. Hingga akhirnya negara api menyerang dan semuanya ambyar. Gak ambyar sepenuhnya sih, tapi jadi kadang inget, seringnya lupa. Sebetulnya enam bulan terakhir, pola hidupku sudah cukup oke sih. Tidur maksimal jam 12, berenang satu sampai dua kali seminggu, selalu makan buah setiap hari, dan menjalani hidup dengan sans dan bermakna. Bahagia? Seringnya iya, kadang enggak dan cuma kesisa capek.
Oleh sebab itu, ketika tiba-tiba siklus menstruasiku terasa janggal, aku pun merasa janggal, hey ada apa? Apalagi dengan kesan yang ditangkap terapis ketika merasakan energi tubuhku. Rasanya tuh seperti, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Kaget dan sedih! Dan mengingatkanku lagi tentang pandangan diriku sebagai orang yang lemah secara fisik.
.
Beruntungnya, aku baru saja menamatkan Sapiens dimana aku mendapatkan insight bahwa peradaban manusia telah berevolusi menjadi peradaban yang mengagungkan rasionalitas. Dan, tugas manusia adalah bertahan hidup sesuai kondisi jamannya, bukan? Oleh sebab itu, di jaman sekarang, kelemahan fisik tidak jadi kelemahan yang sangat mengancam jiwa. Pertama, karena pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik bukan lagi jadi hal yang utama saat ini dan telah digantikan oleh pekerjaan yang lebih mengandalkan intelektualitas. Kedua, perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran telah mampu mengatasi penyakit-penyakit yang dulunya mengancam nyawa menjadi yang bisa diobati bahkan dalam waktu yang singkat. Ditanggung sama BPJS Kesehatan pula wkwkwk.
Beruntungnya, aku diberkahi oleh daya abstraksi dan analisis yang kuat. Sejak kecil sampai sekarang, aku tidak pernah menghadapi permasalahan akademis yang berarti. Pada beberapa periode, bahkan aku berada di atas rata-rata. Kesukaanku membaca dan keinginanku untuk rutin menulis juga menjadi ketrampilan yang sangat membantuku bertahan hidup di jaman ini.
Dibandingkan dengan fisikku yang lemah, kemampuanku menggunakan nalar merupakan alat terbaik untuk bertahan hidup.
Aku teringat dengan salah satu orang yang kukenal, yang menghadapi kesulitan di ranah akademis, hingga putus sekolah, dan saat ini hidup dengan privilege yang sangat terbatas. Bukan berarti kemudian beruntung adalah dengan membandingkan nasib diri dengan orang lain. Pepatah jawa bilang, itu hanya wang-sianwang.
Akan tetapi, andai orang yang kukenal itu dan aku hidup di jaman yang berbeda, mungkin keberuntungan akan berada di pihaknya. Di jaman berburu dan meramu, orang yang kukenal itu yang secara fisik cukup kuat akan bisa bertahan hidup, sedangkan aku mungkin sudah dibunuh oleh kawananku sendiri.
.
Jadi, menurutku frasa beruntungnya aku yang mengindikasikan rasa syukur, adalah perolehan dari kemampuan untuk melihat situasi secara komprehensif. Dengan melihat kesesuaian diriku dengan jaman bisa membuatku melihat betapa kelemahan dan kelebihan adalah hal yang penting untuk disyukuri.
Cermatilah bahwa rasa syukur yang hadir di diriku saat ini tidak menganulir hal yang kuanggap sebagai kelemahanku. Rasa syukur itu bermula dari pengakuan dan penerimaanku yang melahirkan pertanyaan tentang cara berpikir lain yang mungkin terlewati selama ini. Ketika pemikiran ini diperluas, maka kelebihan dalam kelemahan pun akan ditemukan. Seperti halnya kelebihan hidup di jaman ini dalam kelemahan fisikku. Sekaligus, menghantarkan pada kelebihan lain yang selama ini mungkin tidak disadari atau taken for granted. Seperti, mensyukuri nalarku. Kalo kata Tuhan, maka nikmatKu yang mana lagi yang kamu dustakan?
Aku ingat, dulu menjelang operasi kista, aku menuliskan sesuatu di facebook. Kira-kira begini:
Tuhan sudah menyiapkan setumpuk kartu untuk tiap manusia. Lalu, Tuhan mengeluarkan kartu tersebut satu per satu sesuai urutannya. Ketika kartu itu dikeluarkan, kita bisa jadi merasa bahagia, sedih, senang, kecewa, puas, marah, dan sebagainya. Itu yang kita tahu. Yang kita tidak tahu, Tuhan lalu meletakkannya di sebuah meja dalam sebuah pola. Itu yang kita tidak tahu. Karena kita tidak memiliki mata yang sama dengan yang dimiliki Tuhan untuk melihat polanya. Oleh sebab itu, kadang kita hanya bisa menerka-nerka polanya. Kadang kita bisa menerka, kadang tetap tidak bisa meski sudah berusaha. Kadang kita tidak mau bersusah payah menerkanya dan membiarkan kemarahan menyelimuti diri kita. Padahal andai kita bisa yakin, bahwa pola itu pasti indah andai kita bisa melihatnya.
Gimana, masih relevan kan apa yang kutulis dulu dengan ceritaku saat ini?
.
Syukurlah!
“bukan, kalau penyakit dalam?”
Ku buka mataku. Aku terhenyak dalam kesadaran baru, akankah hal yang selama ini kukhawatirkan benar-benar terjadi?
“aku dulu ada kista mbak, tahun 2015 tapi sudah dioperasi.”
“oh ya kista. Tapi udah dioperasi kan ya?”
“sudah mbak.”
Kututup pembicaraan ini, kututup juga lagi mataku. Kukatakan pada diriku bahwa biarkanlah, rasakanlah apapun yang hadir, nanti akan ada waktunya kita bertanya lagi ke terapis tentang apa yang dikhawatirkan.
Perlahan, aku merasa punggungku menghangat. Lalu, perut sebelah kiriku mulai terasa lebih berat hingga aku menyadari keberadaannya. Kuhela nafasku agar aku lebih tenang dan mau menerima sensasi apapun. Kunikmati saja hingga kurasakan darah menstruasi mengalir deras. This is it.
Dua jam sebelumnya, aku sudah mulai agak curiga bahwa aku menstruasi lagi. Namun, pikiranku yang lain menepis, bisa juga hanya cairan vaginal saja. Lalu, karena aku tidak merasa ada pergerakan lain, aku tetap merasa aman dan nyaman. Toh, kalo menstruasi lagi juga masih keluar sedikit seperti yang sudah-sudah.
Aku tidak tau apa yang terjadi, setelah dua jam berlalu, dalam kondisi berbaring, tiba-tiba saja aku merasa betul yakin bahwa aku menstruasi lagi. Padahal baru seminggu berselang dari menstruasi terakhirku. Yang, juga hanya berselang satu minggu dari menstruasi sebelumnya.
Perasaanku mengambang. Aku ingin menangis sekarang ketika menuliskannya.
Setelah terapi energi diselesaikan, aku mendekati terapis untuk menanyakan apa yang terjadi. Ia mengungkapkan bahwa ia merasa energiku dingin yang biasanya menjadi pertanda ada yang kurang beres di organ dalam. Namun, katanya, aku tidak perlu khawatir, toh sudah dioperasi.
Aku pun menyampaikan bahwa meski sudah dioperasi, hasil labnya memang menunjukkan bahwa kista yang ada di tubuhku saat itu adalah jenis yang mungkin tumbuh lagi. Oleh sebab itu, aku khawatir. Apalagi sebulan ini aku sedang berhadapan dengan siklus menstruasi yang janggal.
Aku khawatir sekaligus berterimakasih karena informasi dari terapis menjadi sinyal kuat dari tubuhku bahwa aku perlu segera memeriksakan lagi ke dokter obsgynku. Terapis mengangguk dan menyampaikan bahwa terapi energi juga bisa membantu untuk memulihkan kista salah satu kliennya dulu. Ya aku pun mau begitu. Aku sudah ngeri membayangkan harus terkapar lagi merasakan nyeri selepas operasi.
Ketika perjalanan pulang, aku membicarakan hal ini dengan temanku. Ia menenangkanku, semoga semuanya baik-baik saja. Semoga aku mendapatkan penjelasan secepatnya. Aku mengiyakan dan merencanakan akan memeriksakan diri setelah lebaran dan selepas segala urusan tesis ini selesai. Namun sesungguhnya, aku sedang digelanyuti rasa sedih dengan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.
.
Lalu, dalam perjalanan pulang yang lain dari daerah Gejayan, sembari berkendara, ada pemikiran yang tiba-tiba muncul dan menghadirkan rasa syukur. Aku teringat dengan sebuah cerita di buku Sapiens bahwa di jaman berburu dan meramu dulu, orang-orang tua atau sakit seringkali menyusahkan manusia untuk berpindah tempat atau mencari buruan. Oleh sebab itu, terkadang gerombolan pun memutusukan untuk membunuh para orang tua atau orang sakit yang merepotkan itu. Untunglah, aku tidak dilahirkan di jaman itu. Mungkin aku sudah tidak lagi hidup sebelum berakhir masa remajaku.
.
Sejak kecil, aku memang memiliki kondisi fisik yang lemah. Aku meminum obat selama tiga tahun untuk sembuh dari flek. Aku selalu di kondisi terendah di kelas ketika pelajaran olahraga. Ketika upacara bendera, aku adalah pelanggan UKS karena sering pingsan. Kebiasaan ini terus terjadi hingga aku SMP. Bahkan ketika aku SMA, aku pernah pingsan di pusat perbelanjaan yang terlalu sesak. Aku juga selalu menolak memasuki pasar yang menjamin kebiasaan pingsanku akan kembali kumat.
Ketika kelas 5 SD, aku tidak bisa berlari karena jantungku akan berdegub sangat kencang dan aku jadi sesak nafas. Hingga kemudian hasil pemeriksaan dokter menunjukkan bahwa aku mengidap bronchitis. Di masa terparah itu, deguban jantungku bahkan sangat kencang meski aku hanya berjalan sedikit. Aku punya ingatan yang membuatku sedih, saat itu aku dalam kondisi sakit, berbaring, dan aku melihat dadaku naik turun cepat sekali. Kondisi ini untungnya tidak berlarut-larut seperti ketika aku sakit flek dulu.
Aku melihat diriku sebagai anak yang lemah. Aku sangat membenci pelajaran olahraga. Aku sempat menangis ketika ujian praktik di kelas 3 SMP, aku menjadi satu-satunya anak yang tidak bisa melakukan senam lantai rol belakang. Di SMA, aku memutuskan untuk mengambil jalan pintas ketika olahraga lari. Sialnya, temanku melaporkanku hingga aku diblacklist oleh guruku. Aku sangat marah. Saat itu, aku memang mengambil jalan pintas, tapi aku tetap memposisikan diriku di urutan terakhir. Aku hanya tidak ingn lelah, dan menjadi lemah, dan sakit. Persetan dengan nilai yang sering kalian perebutkan itu bahkan dengan cara curang. Mungkin bila saat itu aku sudah punya kesadaran yang baik terhadap diriku, itu adalah pikiran yang ingin kumuntahkan dengan meletup-letup. Kenapa kamu tidak mau mencoba memahami dulu posisiku dan hanya mengikuti asumsimu?
Kondisiku cukup tenang ketika kuliah karena untuk pertama kalinya aku terbebas dari pelajaran olahraga yang menyebalkan. Kukira begitu. Lucunya, aku malah mulai mencoba-coba olahraga senam body language dan berenang. Yang terakhir, menjadi salah satu hal kesayanganku hingga saat ini. Lucu ya? Hal yang kamu benci setenga mati, menjadi hal yang lalu kamu gemari?
Sejak kuliah, aku mulai melupakan sisi diriku yang lemah karena memang tidak banyak hal yang menstimulasi pikiran itu untuk muncul. Aku hanya merasa mudah lelah yang saat itu kuduga sebagai gejala distimia. Hahahaha, dasar anak baru ngrasain psikologi jadi hobinya diagnosis diri sendiri. Saat itu aku sangat yakin aku mengalami distimia sih memang karena moodku pun cenderung depresif. Meski kukira saat ini aku sadar bahwa ya aku memang mudah lelah juga karena kondisi fisikku, sebab meski sekarang aku sering di mood yang baik pun tetap aja mudah lelah.
.
Ketika di masa bekerja, aku didiagnosis kista, aku cukup terguncang sejujurnya. Saat itu, aku tidak melihat diriku yang lemah muncul. Namun, pikiranku dipenuhi pertanyaan tentang kenapa deh fungsi reproduksi bermasalah padahal aku kan tidak aktif secara seksual? Hahaha naif sekali ya, padahal sejak puber organ reproduksiku kan sudah berfungsi dalam proses menghasilkan sel telur, tidak terjadi pembuahan, menstruasi, begitu terus berkali-kali. Saat itu, kista mengguncang bagaimana aku memandang diriku sebagai perempuan yang akan kutuangkan di tulisan yang lain, semoga ga wacana, hahaha.
Setelah operasi, dokter bilang bahwa kistaku bisa saja muncul lagi. Penyebab yang jelas tentu hormonku. Namun, belum diketahui apa yang menjadi pemicu. Katanya, kalo aku segera menikah dan punya anak maka hormonku akan stabil dan kistanya kemungkinan besar tidak tumbuh lagi. Wah, aku langsung ketawa ngakak dalam hati. Berat syaratnya dok! Lalu, katanya lagi, yah kalo belum mau menikah masih suka cari duit buat diri sendiri, ada tiga hal yang perlu dikelola: tidur di bawah jam 11, pola makan agar berat badan tidak naik turun drastis, dan kelola stress. Hahaha sama aja berat dok! Tapi lebih ringan lah daripada menikah.
Tiga bulan pasca operasi, aku benar-benar menjaga pola hidupku. Hingga akhirnya negara api menyerang dan semuanya ambyar. Gak ambyar sepenuhnya sih, tapi jadi kadang inget, seringnya lupa. Sebetulnya enam bulan terakhir, pola hidupku sudah cukup oke sih. Tidur maksimal jam 12, berenang satu sampai dua kali seminggu, selalu makan buah setiap hari, dan menjalani hidup dengan sans dan bermakna. Bahagia? Seringnya iya, kadang enggak dan cuma kesisa capek.
Oleh sebab itu, ketika tiba-tiba siklus menstruasiku terasa janggal, aku pun merasa janggal, hey ada apa? Apalagi dengan kesan yang ditangkap terapis ketika merasakan energi tubuhku. Rasanya tuh seperti, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Kaget dan sedih! Dan mengingatkanku lagi tentang pandangan diriku sebagai orang yang lemah secara fisik.
.
Beruntungnya, aku baru saja menamatkan Sapiens dimana aku mendapatkan insight bahwa peradaban manusia telah berevolusi menjadi peradaban yang mengagungkan rasionalitas. Dan, tugas manusia adalah bertahan hidup sesuai kondisi jamannya, bukan? Oleh sebab itu, di jaman sekarang, kelemahan fisik tidak jadi kelemahan yang sangat mengancam jiwa. Pertama, karena pekerjaan yang mengandalkan kekuatan fisik bukan lagi jadi hal yang utama saat ini dan telah digantikan oleh pekerjaan yang lebih mengandalkan intelektualitas. Kedua, perkembangan ilmu dan teknologi kedokteran telah mampu mengatasi penyakit-penyakit yang dulunya mengancam nyawa menjadi yang bisa diobati bahkan dalam waktu yang singkat. Ditanggung sama BPJS Kesehatan pula wkwkwk.
Beruntungnya, aku diberkahi oleh daya abstraksi dan analisis yang kuat. Sejak kecil sampai sekarang, aku tidak pernah menghadapi permasalahan akademis yang berarti. Pada beberapa periode, bahkan aku berada di atas rata-rata. Kesukaanku membaca dan keinginanku untuk rutin menulis juga menjadi ketrampilan yang sangat membantuku bertahan hidup di jaman ini.
Dibandingkan dengan fisikku yang lemah, kemampuanku menggunakan nalar merupakan alat terbaik untuk bertahan hidup.
Aku teringat dengan salah satu orang yang kukenal, yang menghadapi kesulitan di ranah akademis, hingga putus sekolah, dan saat ini hidup dengan privilege yang sangat terbatas. Bukan berarti kemudian beruntung adalah dengan membandingkan nasib diri dengan orang lain. Pepatah jawa bilang, itu hanya wang-sianwang.
Akan tetapi, andai orang yang kukenal itu dan aku hidup di jaman yang berbeda, mungkin keberuntungan akan berada di pihaknya. Di jaman berburu dan meramu, orang yang kukenal itu yang secara fisik cukup kuat akan bisa bertahan hidup, sedangkan aku mungkin sudah dibunuh oleh kawananku sendiri.
.
Jadi, menurutku frasa beruntungnya aku yang mengindikasikan rasa syukur, adalah perolehan dari kemampuan untuk melihat situasi secara komprehensif. Dengan melihat kesesuaian diriku dengan jaman bisa membuatku melihat betapa kelemahan dan kelebihan adalah hal yang penting untuk disyukuri.
Cermatilah bahwa rasa syukur yang hadir di diriku saat ini tidak menganulir hal yang kuanggap sebagai kelemahanku. Rasa syukur itu bermula dari pengakuan dan penerimaanku yang melahirkan pertanyaan tentang cara berpikir lain yang mungkin terlewati selama ini. Ketika pemikiran ini diperluas, maka kelebihan dalam kelemahan pun akan ditemukan. Seperti halnya kelebihan hidup di jaman ini dalam kelemahan fisikku. Sekaligus, menghantarkan pada kelebihan lain yang selama ini mungkin tidak disadari atau taken for granted. Seperti, mensyukuri nalarku. Kalo kata Tuhan, maka nikmatKu yang mana lagi yang kamu dustakan?
Aku ingat, dulu menjelang operasi kista, aku menuliskan sesuatu di facebook. Kira-kira begini:
Tuhan sudah menyiapkan setumpuk kartu untuk tiap manusia. Lalu, Tuhan mengeluarkan kartu tersebut satu per satu sesuai urutannya. Ketika kartu itu dikeluarkan, kita bisa jadi merasa bahagia, sedih, senang, kecewa, puas, marah, dan sebagainya. Itu yang kita tahu. Yang kita tidak tahu, Tuhan lalu meletakkannya di sebuah meja dalam sebuah pola. Itu yang kita tidak tahu. Karena kita tidak memiliki mata yang sama dengan yang dimiliki Tuhan untuk melihat polanya. Oleh sebab itu, kadang kita hanya bisa menerka-nerka polanya. Kadang kita bisa menerka, kadang tetap tidak bisa meski sudah berusaha. Kadang kita tidak mau bersusah payah menerkanya dan membiarkan kemarahan menyelimuti diri kita. Padahal andai kita bisa yakin, bahwa pola itu pasti indah andai kita bisa melihatnya.
Gimana, masih relevan kan apa yang kutulis dulu dengan ceritaku saat ini?
.
Syukurlah!

Comments
Post a Comment