Beberapa tahun yang lalu aku mengikuti diskusi di sebuah Café di Jogja. Diskusi itu ngomongin soal kesepian sebagai suatu kondisi yang jamak ditemui di masa transisi ke masyarakat digital. Ada satu pembahasan yang menurutku menarik saat itu dan aku menemukan fakta ini berulang-ulang di beberapa buku yang kubaca hingga hari ini. Dikatakan bahwa manusia itu hanya mampu menjalin interaksi maksimal 150 orang. Ketika membaca harari, aku menemukan bahwa jumlah 150 ini berkaitan dengan an sejarah komunitas di zaman manusia purba yang memang sekecil itu tapi efektif untuk mengenal satu sama lain, berkomunikasi, dan bekerjasama. Melebihi dari jumlah 150 itu, kualitas interaksi akan tidak efektif. Itulah kenapa di era sosial media, kita cenderung mudah merasa kesepian meskipun punya jumlah teman di media sosial mencapai ratusan atau ribuan. Jumlah yang banyak itu itu tidak bisa kita rawat pertemanannya seperti halnya bila kita hanya memiliki 150 teman. Fakta ini menurutku ...
Dua minggu berjalan dengan perasaan yang mengambang. Mencoba berjalan sambil terus merutuki diri sendiri mengapa sulit bagiku, mengapa hingga berlarut-larut. Tidak mudah tertatih-tatih dan aku memaksaku untuk berlari. Kaki yg pincang semakin kesakitan tanpa aku mau tahu. . Murung. Sedih. Tidak mau melakukan apa-apa. Kebingungan apa yang perlu kulakukan untuk membuatnya berlalu. Ya berlalu. Aku mengusirnya, ketika yang kubutuhkan adalah memeluknya. berulang kali, dan kali ini tanpa sadar kulakukan pada perasaanku. Omongan bahwa emosi adalah valid memang tidak semudah itu dijalani. Melihat diri rentan dan rapuh memang butuh keberanian luar biasa. . Aku selalu meyakini bahwa membahasakan rasa dan pikir adalah cara mengurai segalanya. Tidak seampuh itu, karena kata kadangkala adalah kamuflasa. Aku menemukan rupa apa adanya justru dalam nada, warna dan gerak. Bukan sedih, aku marah. Bukan hanya sedih, tapi juga marah yang besar. Kehilangan bukan hanya membuatku sedih tapi juga marah....