Dua minggu berjalan dengan perasaan yang mengambang. Mencoba berjalan sambil terus merutuki diri sendiri mengapa sulit bagiku, mengapa hingga berlarut-larut. Tidak mudah tertatih-tatih dan aku memaksaku untuk berlari. Kaki yg pincang semakin kesakitan tanpa aku mau tahu.
.
Murung. Sedih. Tidak mau melakukan apa-apa. Kebingungan apa yang perlu kulakukan untuk membuatnya berlalu. Ya berlalu. Aku mengusirnya, ketika yang kubutuhkan adalah memeluknya. berulang kali, dan kali ini tanpa sadar kulakukan pada perasaanku. Omongan bahwa emosi adalah valid memang tidak semudah itu dijalani. Melihat diri rentan dan rapuh memang butuh keberanian luar biasa.
.
Aku selalu meyakini bahwa membahasakan rasa dan pikir adalah cara mengurai segalanya. Tidak seampuh itu, karena kata kadangkala adalah kamuflasa. Aku menemukan rupa apa adanya justru dalam nada, warna dan gerak. Bukan sedih, aku marah. Bukan hanya sedih, tapi juga marah yang besar. Kehilangan bukan hanya membuatku sedih tapi juga marah.
.
Berusaha sekuat tenaga untuk menjadikan deret demi deret yang dilalui menjadi masuk akal, membuatku lupa untuk menerima. Bila segalanya adalah pemberian, menerimanya adalah yang perlu kulakukan.
.
Apalagi ketika aku memilih untuk menyimpan apa yang perlu diutarakan artinya aku perlu memberi ruang bagi misteri mewujud. Aku menyadari dan menerima bahwa tidak semua hal harus terpahami akalku.
.
Dan itu tidak membahayakanku.
.
Dan itu adalah titik dimana harap dan pasrah bertemu. Dan itu adalah titik aku sungguh rindu untuk pulang pada yang selalu ada dan menopang dan memelukku seutuhnya dalam diriku.
.
Di saat inilah kata mengurai untuk membawaku lebih berdamai. Pada apa yg telah mampu kuurai. Pada apa yang tidak bisa kuurai. Pada apa yang masih aku tolak urai.
.
Ijinkan aku. Tanpa menjadikannya gamblang, percaya bahwa ada terang.

Comments
Post a Comment