Beberapa tahun yang lalu aku mengikuti diskusi di sebuah Café di Jogja. Diskusi itu ngomongin soal kesepian sebagai suatu kondisi yang jamak ditemui di masa transisi ke masyarakat digital. Ada satu pembahasan yang menurutku menarik saat itu dan aku menemukan fakta ini berulang-ulang di beberapa buku yang kubaca hingga hari ini. Dikatakan bahwa manusia itu hanya mampu menjalin interaksi maksimal 150 orang. Ketika membaca harari, aku menemukan bahwa jumlah 150 ini berkaitan dengan an sejarah komunitas di zaman manusia purba yang memang sekecil itu tapi efektif untuk mengenal satu sama lain, berkomunikasi, dan bekerjasama.
Melebihi dari jumlah 150 itu, kualitas interaksi akan tidak efektif. Itulah kenapa di era sosial media, kita cenderung mudah merasa kesepian meskipun punya jumlah teman di media sosial mencapai ratusan atau ribuan. Jumlah yang banyak itu itu tidak bisa kita rawat pertemanannya seperti halnya bila kita hanya memiliki 150 teman.
Fakta ini menurutku mencengangkan. Pertama karena itu artinya sosial media sebenarnya tidak sesuai dengan sifat alamiah kita. Kedua, bagiku merawat 150 hubungan pertemanan sudah terlalu banyak!
Namun mungkin ada baiknya juga memiliki 150an atau lebih sedikit lingkaran pertemanan yang dirawat sekadar sesuai dengan tingkat kecocokan kita dengan orang tersebut. Oleh sebab itu, ada kategori dalam relasi seperti kenalan, teman, sahabat. Yang sering tidak dibicarakan adalah kategori ini sifatnya cair bila ditempatkan dalam konteks ruang dan waktu.
Sahabatmu dulu, bisa jadi hanya menjadi kenalan di saat ini. Pun sebaliknya, kenalammu dulu bisa jadi orang terdekatmu sekarang. Pun ada juga yang dulu kenalan sekarang masih kenalan. Pun beruntunglah bila yang dulu sahabat masih menjadi sahabat di saat ini dan semoga di masa depan. Menemukan orang yang bertumbuh beriringan denganmu dalam rentang waktu yang cukup lama merupakan berkah tak ternilai dalam hidupmu. Namun, bila pun kedekatan itu hanya dalam waktu singkat atau setelah sekian lama terlepas atau kita sengaja melepaskannya, percayalah bahwa, seperti kata rumi, “berterimakasihlah kepada siapa pun yang datang. karena setiap tamu dikirimkan dari atas sana sebagai pemandumu.”
Banyak perjumpaan yang bermakna dalam hidupku. Orang-orang yang berarti di satu fase hidupku, lalu dengan berat kuputuskan untuk kulepaskan genggaman yang terlalu erat karena nyatanya justru menjadi menyakitkan. Ternyata, di dalam jarak tertentu yang lebih jauh, perjumpaan itu masihlah sebuah berkah. Mungkin kami tidak bisa lagi saling cerita tentang apapun dengan lugas dan terbuka, tapi kami masih bisa saling sapa dan berbagi sekelumit cerita ataupun berbagi pertolongan di saat membutuhkan. Untuk beberapa orang yang berada di posisi ini dan mungkin membaca catatan ini, terimakasih ya untuk kehadiran yang berarti di suatu masa.
Keberanian melepas, ternyata melegakan dan membuatku juga berani untuk membuka pintu. Dalam sikap yang terbuka, kita juga menjadi pemantik untuk yang membuka pintu orang lain. Keterbukaan dibangun dari rasa percaya yang tumbuh dari sikap berbagi kerentanan. Orang-orang yang dulu rasanya terlalu berbeda darimu, bisa saja memiliki inti yang sama tapi berbalut gaya pakaian yang berbeda. Ketika balutan itu ditanggalkan, ketelanjangan yang jujur mempertautkan dua jiwa yang saling membutuhkan. Ada orang yang sudah kukenal bertahun-tahun lalu tapi baru menemukan pertautan itu baru-baru ini. Suatu perjumpaan yang terasa magis mengingat perjalanannya yang begitu panjang. Untuk perjumpaan yang hangat di saat ini, adalah berkah tersendiri yang mari kita nikmati.
Untuk perjumpaan di masa depan masihlah tidak terasa pasti. Namun perjumpaan-perjumpaan di masa lalu memberikan pengajaran dan keyakinan bahwa setiap tamu adalah berkah, yang perlu dilakukan adalah terbukalah dan nikmatilah.
Comments
Post a Comment