Cognitive behavioural therapy atau sering disingkat dengan CBT merupakan pendekatan paling populer dibandingkan pendekatan terapi lainnya. Meskipun demikian, CBT kadang kala dianggap terlalu dangkal untuk memecahkan akar persoalan, bila dibandingkan dengan pendekatan psikodinamika atau transpersonal yang mengedepankan pada memahami keterkaitan pengalaman-pengalaman sepanjang kehidupan. Oleh sebab itu, pada mulanya, pendekatan ini tidak banyak kupilih dalam terapi karena kukritisi kurang memfasilitasi cara pandang yang holistik.
Akan tetapi, sikapku yang
cenderung meremehkan CBT ini sebetulnya telah beberapa kali dipatahkan oleh
bukti-bukti bahwa klienku justru mendapatkan banyak insight dan berkembang
pesat melalui CBT. Beberapa kasus memang sudah kuniatkan untuk menggunakan CBT
dengan berbagai pertimbangan. Beberapa kasus lainnya kuubah haluan untuk
menggunakan CBT di tengah perjalanan menggunakan pendekatan terapi lainnya
(sebut saja psikodinamika dan humanistik). Kasus lainnya CBT kutambahkan
sebagai pelengkap sekaligus penutup dari terapi transpersonal.
Berdasarkan refleksi dan
pengamatanku terhadap proses konseling-konseling tersebut, aku menemukan bahwa
CBT sangat berguna sebagai alat coping yang adaptif dalam kehidupan
sehari-hari. CBT melatihkan proses berpikir secara komprehensif yang dirasakan
sebagai ketrampilan yang sangat bermanfaat dan membantu klien untuk melakukan
coping sehari-hari. CBT memiliki cara untuk menggeneralisasikan ketrampilan
yang diperoleh dalam ruang konseling ke dalam ruang kehidupan. Sebab, CBT
memang menjadikan pengerjaan PR sebagai prinsip konseling sehingga mau tidak
mau klien akan melatihkan ketrampilannya.
Dalam melatihkan proses
berpikir secara komprehensif ini, aku kira, psikodeukasi merupakan teknik yang
krusial digunakan dalam CBT. Penjelasan tentang bagaimana hubungan yang saling
kait-mengait antara pikiran, perasaan, dan perilaku menjadi tonggak awal dalam
CBT. Melalui pemahaman ini, klien akan menyadari bahwa sikap yang membiarkan
diri terlarut dalam pikiran-pikiran negatif ternyata memberikan dampak
berkelanjutan yang negatif, baik di ranah perasaan yang tidak nyaman atau
perilaku yang maladaptif. Menindaklanjuti kesadaran tersebut, klien kemudian
diajak berpikir tentang konsekuensi apa yang akan terjadi bila salah satu
komponen dari pikiran, perasaan, dan perilaku tersebut diubah menjadi lebih
positif. Biasanya proses ini akan memunculkan kesadaran baru bahwa klien
sebetulnya memiliki pilihan untuk mengenali dan mengelola pola tersebut
sehingga berhenti melarutkan diri dalam pola yang itu-itu saja. Dari sinilah
kemudian kita mengenalkan tentang pentingnya mengubah pikiran sebagai cara
menerobos dan mengubah pola yang tidak membantu tersebut.
Pada titik ini, biasanya aku
mulai menggunakan kata membantu dan tidak membantu sebagai pengganti dari kata positif dan negatif. Pada titik ini
pula, biasanya aku mulai menegaskan untuk mulai mencari pikiran alternatif,
bukan pikiran positif. Pikiran alternatif merupakan cara berpikir lain
berdasarkan pada realitas yang mungkin terdiri dari berbagai spektrum dan
perspektif. Aku juga akan menekankan bahwa pikiran alternatif ini tidak melulu
bersifat positif yang mungkin justru sifatnya mengingkari realitas. Sekali
lagi, pikiran alternatif adalah upaya memandang realitas dari sudut pandang
yang lebih beragam dan luas. Pikiran alternatif ini perlu distimulasi dengan berbagai
pertanyaaan yang sifatnya meragukan pikiran negatif sebagai satu-satunya
penjelasan. Kami sering menyebutnya sebagai pertanyaan sokratik, terinsiprasi
dari sosok Socrates yang dikenal sebagai filsuf yang tidak lelah mengajukan
pertanyaan demi pertanyaan.
Misal, ketika klienku
berpikir bahwa “aku tidak berguna”, maka aku menstimulasi pikiran alternatif
dengan menanyakan “apakah benar kamu sepenuhnya tidak berguna?”, “adakah sisi
dari diri dan hidupmu yang berguna, mungkin untuk orang lain atau dirimu
sendiri?”, “atau mungkin dalam aspek yang lain, misal pertemanan, pekerjaan,
keluarga, lingkungan, dan sebagainya?”, “apakah temanmu yang menghadapi situasi
serupa denganmu juga merupakan orang yang tidak berguna? Mengapa?”, “seandainya
temanmu memiliki pikiran yang serupa denganmu bahwa ia tidak berguna, apa yang
ingin kamu katakan padanya?”, dan berbagai pertanyaan lain yang mengarahkan
pada proses mencari penjelasan lain. Setelah itu, perlu diasesmen tentang
seberapa klien yakin terhadap pikiran-pikiran lain yang ditemukannya dari
proses bertanya tersebut.
Proses bertanya ini,
selayaknya proses, bukanlah sesuatu yang instan. Pengalamanku di ruang
konseling, untuk menemukan berbagai pikiran alternatif ini diperlukan waktu
30-45 menit. Oleh sebab itu, psikoedukasi lain tentang pentingnya berlatih berpikir
alternatif perlu ditekankan untuk memotivasi klien. Bahwa, adalah wajar pikiran
alternatif ini pada awalnya membutuhkan waktu untuk ditemukan. Maka, seiring dengan semakin sering kita berlatih menggunakan cara berpikir alternatif, akan semakin otomatis cara berpikir ini dilakukan sehingga lebih
cepat pula pikiran alternatif ditemukan.
Kemarin, klien yang sudah
mengikuti berkali-kali proses konseling dengan pendekatan humanistik akhirnya
kubelokkan pendekatan terapinya menggunakan CBT. Hal ini karena aku
mengevaluasi ia sudah mendapatkan banyak insight tapi tidak juga kunjung mampu
melakukan coping harian secara adaptif. Ternyata, dengan menggunakan CBT ini
yang kuedukasikan secara terstruktur dengan menggunakan media gambar dan tulisan,
dievaluasi oleh klien membuatnya lebih mudah memahami apa yang selama ini
menjadi insightnya. Ia bilang bahwa “benar kata ibuku mbak, aku tuh harus
dijelaskan dengan jelas dan terang (aslinya bahasa jawa: dicethake)”.
Selain itu, penekananku pada
perbedaan pikiran alternatif dan pikiran positif dievaluasi oleh klien justru
terasa ringan dan realistis. Hal ini disebabkan, selama ini, klien sering
mendapatkan motivasi dari teman untuk berpikir positif seakan-akan masalah yang
dihadapinya bukanlah sesuatu yang serius. Sikap mengingkari kondisi negatif ini
rasanya seperti sikap menuntut untuk menggunakan topeng aku baik-baik saja. Sementara
itu, pikiran alternatif tetap memberikan ruang bagi adanya pikiran negatif yang
memang sesuai dengan realita dan tentunya sesuai dengan porsinya. Melalui pengakuan
ini, maka akan dapat dicari penjelasan lain sesuai realitas dan sesuai
porsinya. Oleh sebab itu, klien lebih mudah untuk meyakini pikiran alternatif ini
sebagai bagian dari sistem keyakinannya. Hal ini berbeda dengan pikiran
positif yang kadang terkesan omong kosong dan justru menimbulkan gejolak batin
lainnya.
Refleksi diri dan evaluasi
bersama dengan klien tentang CBT ini membuatku merevisi pandanganku sebelumnya
yang cenderung meremehkan CBT. Karena pada refleksi selanjutnya, aku pun
menyadari bahwa teknik CBT ini justru ketrampilan yang paling sering kulakukan
dalam keseharian. Namun, karena saat ini sudah kulakukan secara otomatis saja
tanpa banyak upaya, maka aku jadi lupa untuk menghargainya. Padahal betapa
otomatisnya ketrampilan itu muncul pada diriku sekarang adalah hasil berlatih
terus-menerus sejak aku berkenalan dengan CBT dan distorsi kognitif di S1 dulu.
Refleksi ini juga
mengingatkanku bahwa sindrom berpikir secara dikotomis dan hierarkis bahkan
masih menelusup secara subtil dalam diriku. Bahwa antara CBT dan pendekatan
terapi lainnya memiliki prinsip-prinsip unik yang akan sesuai dengan karakteristik
tertentu pada klien ataupun permasalahan yang dihadapi. Oleh sebab itu, diperlukan
sikap yang terbuka pada setiap kemungkinan dalam ruang konseling. Bila memang
dari hasil asesmen di awal atau di tengah bahkan di akhir, kurasa CBT cocok
untuk menyelesaikan masalah klien tertentu, maka aku perlu mengikis sikap
meremehkan CBT dan meninggikan pendektakan terapi lainnya, sehingga aku bisa
menindaklanjuti terapi dengan menggunakan pendekatan CBT. Bukankan kebutuhan
klien adalah yang utama, mengalahkan ego atau favoritism terapis terhadap
pendekatan tertentu?
Semangat Nov! Lets do the
great thing, again J
Comments
Post a Comment