Dalam sebuah sesi transpersonal, entah kenapa, keterikatanku pada Yang Maha Kuasa selalu tersentil. Ketika berada di dalam Self aku merasakan kerinduan yang teramat sangat. Sekaligus merasa sangat damai. Dan sedih. Dan berterimakasih ketika aku diperbolehkan untuk mengambil energinya untuk kujadikan bekal menghadapi situasi-situasi di luar diriku.
Dalam sebuah sesi transpersonal yang lain, aku tidak masuk ke dalam Self. Namun, keterikatanku pada Yang Maha Kuasa tersentil juga lewat pemain diriku yang kusebut sebagai si Pencari. Ia yang selalu bertanya dan ingin mendapatkan jawaban. Ia yang memberiku pesan untuk berhenti bertanya dan lakukanlah dulu maka jawaban itu juga akan kudapatkan. Ia yang menyimbolkan diri ke dalam bentuk seekor burung yang terbang. Lepas dan bebas. Ia yang menenangkan kecemasanku.
Awalnya aku tidak mengira bahwa ini berhubungan erat dengan keterikatanku pada Yang Maha Kuasa, tapi terapisku mengatakan bahwa dalam agama yang dianutnya, yang berbeda dengan apa yang kuanut, burung adalah simbol dari hubungan manusia dengan sang Khalik. Ia sempat merinding ketika aku menyampaikan visualisasiku tersebut.
Ngomong-ngomong soal beda agama, aku mengira di awalnya sisi si Pencari dalam diriku muncul karena kemarahanku ketika dulu pas SMA aku sempat naksir sama kakak tingkat yang beda agama. Wkwkwkwk. O ya satu sisi diriku yang kuat dulu, dan masih beresidu sekarang, adalah si Penghindar Konflik. Jadi, ketika tau kami beda agama, sedangkan di agamaku jelas tidak diperbolehkan, apalagi sama bapak ibukku pasti jelas tidak dibolehkan, dan aku berpikir, lha buat apa juga mencoba lanjut kalau nggak bakal kemana-mana. Ya ampun padahal aku masih SMA emang mau ngapain sih neng? Haha. Akhirnya ya sudah gak mau ngapa-ngapain tapi masih naksir, jadinya malah marah sama agama.
Yah, segakjelas itu kemarahanku sama agama. Sampai kemudian seiring bertambahnya kemampuan mengobservasi dan menganalisis aku menemukan permasalahan-permasalahan lain dalam agamaku. Seperti, klaim kebenaran yang dogmatis, peribadatan yang tiada henti tapi tiada henti juga menyakiti kemanusiaan, logika surga-neraka yang terlalu childish, dan sebagainya.
Dari situlah, aku mulai melirik pandangan agama lain. Aku suka sekali dengan ajaran Buddha yang amat humanis. Aku cukup tertarik dengan ajaran cinta kasih di Nasrani. Ketika KKN, aku ikut mengajar di kelas Minggu dan tersentuh dengan sebuah lagu “Yesus pokok, dan kitalah carangnya, tinggallah di dalamNya.” Beberapa kali aku masih menyanyikan lagu ini kalau hati lagi ricuh.
Namun, pada kenyataannya pun aku melihat bahwa tidak semua orang Buddha humanis. Tidak semua orang nasrani penuh cinta kasih. Pun tidak semua orang Islam dogmatis. Aku melihat bahwa mungkin agama tidak sepenuhnya bersalah, tapi bagaimana umat yang mengimani agamalah yang bermasalah.
Aku sempat merasa atheisme itu keren, sampai kemudian di satu titik terendah dalam hidupku aku mencariNya. Sejak itulah, aku menemukan satu hal mendasar dalam diri manusia. Manusia adalah makhluk lemah yang tidak bisa mengontrol segala sesuatunya sehingga ia akan memiliki tendensi untuk mencari entitas lain yang Maha Kuasa agar merasa aman di segala ketidakpastian. Aku meletakkan atheisme. Ia adalah paham yang tidak sesuai dengan pengalamanku.
Lalu, aku mulai mengenal agnostik dan merasa cocok dengan paham tersebut. Hingga di satu titik lain dalam hidupku aku menyadari bahwa sepandai apapun aku memaknai dan memikirkan betapa aku terhubung dengan Yang Maha Kuasa, kesadaran yang bercokol di pemikiran saja akan selalu timbul tenggelam.
Ketika belajar transpersonal, aku mengenal sebuah istilah grounding, yaitu menurunkan apa yang dipahami di akal dalam sebuah sikap perilaku sehari-hari sebagai cara untuk merawat kesadaran tersebut. Di salah satu sesi transpersonal yang lain, aku teringat bahwa pesan dosenku untuk berdamai dengan salah satu isu personalku adalah berdoa. Ketika aku mengernyitkan dahi, dosenku menambahkan bahwa ia tidak memintaku untuk secara rela hati memohonkan doa yang bermakna kepada orang yang saat itu belum sepenuhnya ku maafkan. Namun, gerakan saja bibirmu, tanpa berpikir.
Ingatan ini menguatkanku bahwa aku perlu menemukan suatu ritual yang akan menjadi jangkar bagi kesadaranku. Dari sinilah, aku mulai menangguhkan agnostik. Aku mulai berpikir bahwa untuk mencari laku spiritual secara individual pastilah menyusahkan. Mungkin, itulah gunanya agama memudahkan kita menjalin relasi secara berkelanjutan dengan cara yang sudah ditentukan. Pekerjaan rumahnya adalah mencari ritual mana yang cocok menjadi sebuah laku. Oleh sebab itu, aku memilih kata menangguhkan sebagai artian bahwa bila pun tidak ada ritual agama yang cocok maka cari saja ritual yang lain tanpa kita perlu mememeluk agama tertentu.
Memeluk. Kata yang indah ya. Memeluk artinya merangkul sesuatu yang awalnya ada atau seakan-akan ada di luar diri kita, menjadi satu dengan diri, dan membuat kita nyaman. Oleh sebab itu, beragama sepatutnya menimbulkan rasa nyaman, tentram, dan aman.
Wajah agama yang aman dan tentram ini membuatku ingin mengenal lebih jauh Nabi Muhammad. Seperti yang kusampaikan sebelumnya, bahwa aku mulai punya prasangka baik pada agama dan memetakan bahwa umatnya yang menafsirkan agama dengan cara yang keliru. Oleh sebab itu, aku berpikir bahwa bila aku memang ingin melihat dengan jelas seperti apa wajah Islam maka aku perlu menghayati sosok Nabi.
Di sinilah aku melihat bahwa Islam secara esensinya adalah agama yang menundukkan diri, berserah, dan taat pada kuasa Tuhan sebagai suatu bentuk dari iman itu sendiri. Islam adalah agama yang penuh cinta kasih sebagai salah satu tugas manusia untuk mengenal dan mengenalkan wajah Tuhan dengan menjadi perpanjangan tangan sifat Tuhan tersebut. Islam yang merevolusi budaya arab yang sangat hierarkis merupakan wujud dari sikap cinta kasih ini.
Selain itu, aku juga memahami bahwa ketika agama saat ini berkembang dengan cara yang dogmatis, sesungguhnya Islam adalah agama yang mengutamakan akal budi. Ayat pertama Al-Quran adalah perintah membaca. Frasa yang banyak ditemukan di Al-Quran adalah “tidakkah engkau berpikir?”. Tentu saja, ini adalah bagaimana aku memahami tentang Islam bukan bagaimana Islam sesungguhnya yang dimaksudkan oleh Tuhan. Kebenaran absolut tidak pernah dijatuhkan ke tangan manusia, bukan?
Memahami esensi Islam, menumbuhkan rasa cinta kembali pada agama yang pernah ingin kubuang jauh-jauh dari hidupku. Melalui perspektif ini, aku merasakan bahwa ritual sholat dalam Islam pun memiliki makna yang berbeda. Saat ini aku menjadikan sholat sebagai cara yang nyaman untukku menjaga kesadaranku atas relasiku dengan Tuhan.
Membaca Al-Quran menjadi pengingat bahwa Tuhan telah mengenalkan diriNya dan memberikan kita cara untuk berucap dengan bahasa dan makna yang sama denganNya. Dan, surat Al-Fathihah adalah bagian yang paling krusial bagiku, entah dalam sholat ataupun membuka membaca Al-Quran. AL-Fathihah mengingatkan pada sifat Tuhan yang Rahman pun Rahim. Yang menundukkan kita untuk meminta padaNya yang menguasai segala petunjuk.
Al-Quran yang aku pahami meminta kita untuk beriman dalam tauhid, bahwa Tuhan adalah Esa dan Maha Kuasa. Namun, kita perlu menggunakan akal pikiran untuk membaca tanda-tanda keesaan dan kuasaNya.
Mendengarkan kajian ataupun membaca buku agama tidak lagi terasa dogmatis bagiku karena aku sadar aku dapat memilih kajian mana yang ingin kudengarkan dan buku mana yang ingin kubaca. Proses memilih ini sebenarnya juga wujud bagaimana aku membolehkan nalar kritisku tetap mendapatkan tempat dalam upayaku merawat keimanan. Selain tentu saja, menulis atau berdiskusi berbagai hal tentang spiritualitas dan religiusitas.
Kembali lagi di cerita awalku, bahwa kukira si Pencari ini muncul gara-gara aku naksir dengan kakak kelas yang berbeda agama, seretjeh itu wkwkwk. Ternyata tidak lho, aku ingat, bahwa sebenarnya kesukaanku untuk mencari sudah dimulai dari kecil. Aku dibesarkan dengan tradisi ritual taat yang kugugat karena yang ritual itu miskin makna selain perkara dosa dan pahala. Aku membaca berbagai buku agama dan mengikuti kajian-kajian hanya untuk kembali dihadapkan pada logika surga dan neraka. Aku ingat salah satu buku yang kubaca dulu, adalah tentang azab bagi wanita. Duh dek.
Semenjak remaja, aku mulai menyadari kekecewaanku pada agama. Peristiwa aku naksir dengan yang beda agama itu hanyalah sebuah peledak saja yang efeknya ternyata tidak sesepele kelihatannya.
Sebetulnya, aku sedang ditunjukkan jalan yang berliku, karena mungkin hanya dengan jalan berliku itulah aku bisa sampai pada yang hakikat.
Siapa yang menyangka bahwa sikapku yang lebih terbuka pada agama justru berpijak dari belajar transpersonal sebagai ilmu tentang psikologi dan spiritualitas?
Terimakasih atas pengajaranMu. Kalo kata Cina dan Annisa, teach me, how to love you more..

Comments
Post a Comment