Skip to main content

Life is...



Beberapa hari ini aku sedang menyibukkan diri dengan aktivitas konseling. Bahkan bisa dibilang nyaris dua minggu ini aku sangat sedikit menyisihkan waktu untuk mengerjakan tesis. Antara memang sedang tidak ada pekerjaan tesis yang sedang perlu berproses, merasa jenuh, atau memang merasakan betapa ruang konseling membuatku nyaman.

Meskipun terdapat berbagai penjelasan, pada awalnya aku langsung menghakimi bahwa aku memang sedang escape, melarikan diri. Temporary escape has a permanent price, wkwkwk, quote lagi, dari the man I really couldn’t have.

Sampai kemudian aku menceritakan pada temanku, dan, yah, sekalipun aku escape pun hal yang kulakukan adalah sesuatu yang bermanfaat.

Dari situlah aku mencoba memahami apa yang  sedang terjadi pada diriku dan beropini bahwa ada tiga kemungkinan tersebut.

Setiap harinya aku nyaris melakukan konseling minimal dua klien setiap harinya. Klien-klien dengan kebutuhan psikologis yang cukup berat, tapi memiliki kesadaran bahwa mereka membutuhkan bantuan.

Setiap harinya, yah, ada rasa cemas, apa yang akan terjadi di ruang konseling nanti. Apa tujuan konseling hari ini? Apa rencana agendaku hari ini? Apa teknik yang akan aku gunakan hari ini?

Dan, aku mulai menata kembali apa yang telah aku pahami serta memetakannya. Membuat rencana secara garis besar. Mengambil nafas. Mengingatkan bahwa ketulusan, dan kesungguhan hati adalah kunci dari setiap konseling. Aku mengapresiasi perencanaan yang telah kususun. Dan berbicara pada diriku sendiri, mari ikuti apa yang akan dituntun oleh semesta. Bersikaplah secara terbuka pada setiap kemungkinan.

Masuk ke ruang konseling. Menyapa klien. Berinteraksi dengan klien. Mengikuti alur klien.

Counseling is a magic process.

Seringnya hal yang kurencanakan tidak berjalan sesuai tahap per tahap. Ataupun target per target. Tapi, the heart of the most important thing is captured, is catched. And it is meaningful. For the client, for me.

Seringnya kemudian keluar ruang konseling memang dengan perasaan yang bercampur aduk. Senang, ya. Amaze, ya. Lelah, ya.

Begitu pula hari ini. Aku melakukan konseling pada dua klien. Di klien pertama, ya Tuhan, aku mendapatkan inti dari surviving personality, bagaimana ia terbentuk, bagaimana ia merugikan ketika klien berhadapan dengan situasi saat ini. Berdasarkan data ini, aku jadi semakin mantap untuk menggunakan empathic love therapy sebagai pendekatan intervensinya. Sementara itu, di klien kedua, proses terapi beranjak pada sesi pasangan suami istri ini dapat saling mengekspresikan diri, mendengarkan satu sama lain, memberikan respon, dengan situasi yang nyaman dan konstruktif.

Sungguh terimakasih sekali Tuhan. Berkah hari ini.

Sekali lagi, rasanya campur aduk. Termasuk kelelahan yang sangat, dan tidak bisa terkatakan.

Oleh sebab itu, secara otomatis, aku langsung membuka laptop, memainkan musik-musik kesukaan, bernyanyi sendiri, tanpa memedulikan sekitar. My me time that I needed the most hehehe. Lalu, tiba-tiba aku ingin saja menulis, tanpa tahu apa yang sebenarnya ingin kutulis. Tapi ya sudahlah biarkan mengalir. Lalu, jadilah tulisan ini.

Dan yang lucu, sembari menuliskan ini, aku sambil menyampaikan bahwa minggu ini aku tidak akan melakukan konseling lagi. Aku ingin coba kembali lagi ke tesis, meski belum tahu apa yang perlu kukerjakan. Eh kemudian aku mendapatkan kabar dari dosen pembimbing tesisku bahwa aku perlu mengujicobakan alat ukur yang akan kugunakan. Aku jadi senyum-senyum sendiri, Tuhan memang sudah menyiapkan porsi yang pas. Aku perlu menikmati dan mensyukuri.

Dear,
Maha Kasih. Maha Pemberi. Maha Penyayang. Maha Mengetahui. Maha Mencukupkan.
Terimakasih.

Comments