Skip to main content

Being psychologist: when my professional matter mingled with my personal life



Counselling is the most magical thing happened in my magic life.

Beberapa bulan belakangan ini, aku kembali aktif di Rifka Annisa sebagai konselor psikologi. Sebuah keputusan yang tidak mudah sebetulnya mengingat aku masih mengerjakan tesis. Apalagi aku bukanlah orang yang multitasking. Biasanya aku akan menolak mengerjakan dua hal yang berbeda sekaligus. Apalagi ketika keduanya memerlukan energi yang luar biasa besar. Terbayang kan ya mengerjakan tesis. Terbayangkan ya mendengarkan cerita yang berkelindan erat dengan emosi negatif. Dan, aku bukanlah tipe orang yang punya banyak energi. Kondisi fisik yang sejak kecil mudah sakit membuatku mudah merasa lelah. Kepribadianku yang cenderung introvert juga membuatku mudah kehilangan energi di dunia yang ramai oleh interaksi sosial ini.

Meskipun dengan berbagai kondisi tersebut, aku memutuskan untuk kembali ke Rifka Annisa sebagai konselor karena seperi kata Dilan, rindu itu berat. Ya, aku rindu bersentuhan secara langsung dengan isu perempuan. Aku rindu berkontribusi aktif menjadi bagian dari dunia yang berubah. Dunia baru yang aku impi-impikan menjadi dunia yang bersikap ramah pada perempuan, yang menghargai seseorang tanpa syarat sebagai seorang manusia, dunia yang lebih setara, dunia yang nyaman dan aman untuk ditinggali dan dicintai.

Dulu, ketika aku masih menempuh kuliah di semester satu dan merasa terjebak dengan berbagai tugas kuliah yang itu-itu saja, yang hanya kulakukan untuk kepentingan diriku sendiri, rasanya jengah sekali. Namun, aku tahu bahwa aku perlu melalui tahap yang itu itu aja untuk sesuatu yang lebih besar. Aku perlu menahan kerinduanku, mentoleransi bahwa aku belum bisa berkontribusi langsung tapi proses perkuliahan ini adalah caraku untuk berkontribusi lebih banyak ke depannya di isu perempuan. Untuk menenangkan diri, aku rajin-rajin memutar lagu-lagu Rannisakustik, terutama di album Bertanya Tentang Cinta. Lumayan membantuku dan justru menyemangatiku untuk menyikapi perkuliahan ini dengan serius dan sungguh-sungguh. Maka, ketika nyaris dua tahun tercerabut dari isu ini, aku langsung memutuskan untuk kembali lagi ketika tesisku dimulai. Selain, aku juga tidak bisa membayangkan mau hilang kemana pengetahuan dan ketrampilanku kalau aku tidak mengasah diriku di ruang konseling.

Dengan kompetensi yang bertambah, aku merasa lebih powerful ketika berada di ruang konseling. Permasalahan-permasalahan klien yang kuhadapi akhir-akhir ini, sejujurnya adalah masalah-masalah yang secara aktual lebih berat dari permasalahan klien yang sering kuhadapi di mapro ataupun klien rifka yang kutangani sebelum aku kuliah lagi. Kebanyakan klien yang kutangani saat ini sudah di tahap depresi berat dimana beberapa hingga melakukan self-harm atau percobaan bunuh diri, terduga bipolar, mengalami post-traumatic disorder, bahkan ada yang mengalami gejala hysteria hingga terjadi kelumpuhan sementara sebagai dampak dari kekerasan yang dialaminya. Kasus-kasus berat yang membutuhkan tidak hanya sekali sesi, tapi berkali-kali sesi. Pada mulanya kami akan merencanakan berapa banyak sesi yang perlu ditempuh  meksi pada praktiknya akan bersifat tentatif: bisa lebih pendek atau lebih panjang. Suatu hal yang mungkin sulit dibayangkan oleh aku yang dulu: bagaimana caranya membuat korban kekerasan ini mau menjalani sesi beberapa kali dengan situasi kekerasannya?

Namun, dengan bertambahnya pengetahuan, pemahaman, empati, dan ketrampilan komunikasiku saat ini, bila boleh aku berbangga hati kebanyakan klien yang kutangani mau berproses secara berkelanjutan. Salah satu privilege yang kudapat di Rifka Annisa adalah kami tidak perlu cemas tentang berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan oleh klien karena sudah tercover oleh pendanaan lembaga. Semoga lembaga ini istiqomah ya, dapat banyak duit untuk melakukan berbagai kerja-kerja baiknya, dan dapat menjadi kendaraan yang mendukung individu-individu seperti diriku untuk melakukan kerja baik dalam lingkungan yang suportif.

Pertemuan pertama dengan klien merupakan sesi paling krusial dimana kenyamanan dan keamanan harus terjalin. Sikap yang mendengarkan aktif, keinginan untuk memahami, mengoptimalkan akal budi untuk memetakan situasi dan kondiri diri klien, mengkomunikasikan pemahaman kita sehingga klien benar-benar merasa dimengerti, menyampaikan informasi-informasi penting yang membantu klien untuk lebih menyadari permasalahannya pun kekuatannya, membangun kesiapan klien untuk berproses dan bekerja sama denganku sebagai fasilitator dalam proses pendampingan ataupun pemulihan. Banyak kan ya tahapnya, kadang juga prosesnya berkelindan satu sama lain, dan melibatkan proses pengambilan keputusan yang cepat tentang apa yang harus kulakukan terlebih dahulu. Lalu, proses konseling berlanjut ke sesi-sesi selanjutnya yang biasanya akan berada di fase yang lebih menguras emosi dan energi. Kata beberapa klien, habis pulang konseling rasanya capek banget. Bahkan kalo mau ke Rifka, sudah siap-siap buat capek. Wkwkw, dalam hati saya juga pengen bilang, sama kok saya juga capek pake banget malah kalo sehari bisa sampai tiga kali konseling psikologis begini. Namun, segala emosi yang tidak nyaman di fase ini perlu ditoleransi sebagai anak tangga yang akan menghantarkan kami ke fase selanjutnya yang berisikan upaya-upaya perubahan dalam diri yang lebih bermanfaat dan membantu untuk klien. Proses konseling akan diterminasi ketika kami bersepakat bahwa klien telah mencapai beberapa titik perkembangan yang sudah cukup kuat untuk dijadikan bekal menghadapi kembali kehidupannya dengan lebih sadar dan adaptif.

Whitmore pernah bilang bahwa proses pemulihan psikologis itu selayaknya seni menunjukkan jalan (the art of guiding). Aku sebagai fasilitator yang membawakan cahaya untuk menunjukkan kondisi diri dan situasi klien yang sebelumnya terasa gelap gulita. Cahaya ini yang akan membantu klien untuk mau dan mampu melihat apa yang terjadi dalam dirinya dan jalan apa saja yang sebenarnya tersedia. Sebagai cahaya, aku tidak bisa menyeret kaki klien untuk menapaki jalan tertentu tapi kaki itu sendiri yang harus membuat pilihan. Sebagai cahaya, maka aku akan terus membantunya menapaki dengan lebih terang, dengan lebih penuh kesadaran, dengan lebih berefleksi. Di sinilah kemudian poin pemberdayaan secara psikologis sedang diestafetkan agar menjadi milik klien, bahwa ia bisa mengambil jalan, ia bisa melangkah, ia bisa melihat sekeliling, Ia bisa kembali memutuskan untuk melanjutkan langkah atau mengambil jalan yang lain.

Untuk bisa menjadi cahaya yang tak akan pernah habis itu, diperlukan satu kondisi dasar yang oleh Carl Rogers disebut sebagai suatu bentuk penerimaan tanpa syarat (unconditional positive regard). Ia adalah bentuk cinta yang paling dasar dan murni yang mampu memandang dan menghargai setiap individu sebagai seorang manusia seutuhnya dengan segenap kompleksitasnya. Penerimaan tanpa syarat selayaknya kasih ibu kepada beta yang tak terhingga sepanjang zaman.

Dalam konseling feminis, maka aku perlu melakukan sikap mothering. Mothering merupakan sikap yang membuat klien mampu terhubung lagi dengan kasih sayang seorang ibu yang mampu menerima tanpa syarat. Seperti halnya prinsip kesetaraan dalam feminisme, maka sikap mothering ini pun dilakukan dalam relasi yang setara. Ia perlu membebaskan diri dari norma di masyarakat yang menempatkan seorang ibu sebagai orangtua yang harus dihormati, didengarkan, dan diikuti nasihat-nasihatnya. Sebab, relasi yang tidak setara ini akan menghalangi kita untuk mampu melakukan penerimaan tanpa syarat. Seperti halnya dalam relasi terapis dan klien, ketika aku menempatkan diriku sebagai pihak yang lebih tahu dan punya pandangan yang lebih baik maka aku tidak akan mau dan mampu menjadi cahaya ketika klien memilih jalan yang kuanggap salah.

Oleh sebab itu, aku memiliki kesediaan mendengarkan yang lebih baik dari sebelumnya. Melalui mendengar,maka memahami. Melalui pemahaman, maka memberikan penawaran sesuai yang dibutuhkan. Melalui penawaran, maka terjadi kesepakatan. Melalui kesepakatan, maka terjalin kerjasama. Sebuah hubungan yang bersifat terapeutik pun terjalin dengan berbagai perkembangan yang kadang tidak terduga sama sekali, baik untuk klien ataupun diriku sendiri. Ruangan konseling sekaligus kuniatkan menjadi suatu bentuk terapi untuk memodelkan seperti apa relasi setara itu sebenarnya. Sebuah ruang dialogis yang tidak bertujuan untuk menempatkan satu pihak sebagai yang menang dan lainnya sebagai yang kalah. Namun, sebuah kemajuan bersama sekecil atau sebesar apapun itu. Dan, penerimaan tanpa syarat menyertai dan terus menjadi sungkup yang melindungi kami.

Proses ini membuatku teringat pada pola pengasuhan yang diterapkan oleh ibuku dalam hal pendidikan. Ibuku hanya memberikan penegasan bahwa pendidikan ini adalah suatu hal yang dibutuhkan olehku, bukan dirinya. Ia akan ikut berbahagia dengan apapun yang kupilih secara sadar dan bertanggung jawab. Pun ketika di tengah perjalanan aku mengalami hambatan, ibu tidak pernah memarahiku atau membuatku merasa tidak dicintai karena kegagalan di satu tahapanku. Ia mendengar, merengkuh, dan mendukungku untuk kembali mengusahakan apa yang aku anggap perlu kuusahakan untuk diriku sendiri. Dari sikap inilah, kalau boleh dikatakan, ibuku justru paling berhasil mendidikku untuk berani mengambil keputusan sendiri, menikmati proses yang kujalani, dan terus belajar dari berbagai hal. Pun aku tahu bahwa kapanpun aku merasa lelah, aku punya tempat pulang untuk beristirahat sebelum melanjutkan kembali perjalananku. Berkaca dari proses ini, aku mulai melakukan prinsip yang sama dalam ruang konseling. Seperti ibuku yang merasakan betapa ajaibnya melihat aku berkembang dengan penuh kemandirian, akupun sering terkesima dengan betapa magis ruang konseling sebagai awal perubahan di diri klien.

Seperti yang kukatakan sebelumnya, proses konseling adalah proses yang melelahkan. Melelahkan, tapi memberikan energi baru. Melelahkan, tapi memberikan makna. Melelahkan, tapi berarti. Melelahkan, tapi membuatku ingin lagi. Aku percaya bahwa lelah adalah sebuah siklus yang bila disadari dan dirawat ia akan berangsur pulih. Oleh sebab itu, aku perlu mentoleransi rasa lelah, belajar memberi ruang untuk beristirahat, lalu melanjutkan yang perlu dikerjakan. If we tired, learn to rest, not to quit.

Di titik ini, aku mensyukuri keputusanku untuk kembali lagi ke ruang konseling. Kembali lagi ke isu perempuan. Semoga ia menjadi sebuah energi baru untukku menyelesaikan tesisku, sebab apa yang sudah dimulai maka perlu diselesaikan, bukan?

Sebagai penutup, aku ingin menuliskan lirik dari lagu ”Ibu” milik Rannisakustik yang hari ini sudah kudengar entah berapa puluh kali, hehe.. Untuk semua orang yang berperan sebagai sosok ibu dalam hidupku. Atau untuk setiap orang yang membutuhkan sosok ibu. Atau untuk setiap orang yang menemukan sosok ibu dalam diriku.

Saat langkah sampai di tebing berbatu
Tak ada lagi yang kau tuju
Pada ibu kau mengadu
Ketika hati letih dan sepi
Sayap luka dan perih
Ibu tempatmu kembali
Ibu saat ada dan tak ada
Tetaplah mata air
Asal doa terpancarnya
Mengaliri nadimu
Matahari
Bagi bumi suburmu
Saat kenangan adalah pisau yang menikam
Saat cinta terkoyak dusta
Ibu tempat berbagi cerita
Ketika hati letih dan sepi
Sayap luka dan perih
Ibu tempatmu kembali

Comments