Skip to main content

Untuk A : yang menyadari pikiran lelaki ini adalah patriarki yang hakiki


Di pantai
Angin yang asin menggelitik
Damai dan asyik
Bermain-main dengan pikiranku

Tangan itu
Menyampirkan jaket di pundakku
Santun pikirku
Ketika mulut itu
dengan senyum terkembang
Berkata “hati-hati, terlalu menerawang”

Pikiranku
Oh naifnya dirimu

Tangan itu
Tak pernah bersikap santun
Ketika ia menyampirkan jaket di pundakku

Tangan itu
Tak pernah bersikap santun
Ketika di malam itu
Ketika tiada sesiapapun selain diriku
Ketika ia meraba tubuhku
Membekukanku
Membuatku malu
Membungkam keenggananku
Menakutiku kemarahanku

Tangan itu
Adalah tangan kanan pikirannya
Yang tertutupi oleh nafsu
Atas tubuhku
Yang tak melihat kemanusiaan
Dalam keperempuananku
Yang terbenarkan oleh dogma
Aku adalah warga kelas dua
Pantas dikuasai
Pantas dilindungi
Tak pantas memegang teguh otoritasku sendiri




#surviving adalah proyek menulis puisi berdasarkan pengalaman klien-klien yang kudampingi setelah kekerasan terjadi dan mengubah hidup mereka.

Comments