Skip to main content

Sebuah surat titipan rindu

 Ano
 Aku belum cukup lama mengenalmu, tapi aku bertaruh kelak kau akan menjadi seorang laki-laki yang memukau dengan kelembutan hatimu. Aku mengenalmu sebagai seorang kecil yang penyayang.  Aku termangu memandangi tubuh ringkihmu yang tak lelah menggendong adikmu, sandi, ke sana kemari. Aku terharu mengetahui bagaimana sandi menangis kencang untuk memanggilmu, lalu terdiam bahkan tertawa saat kamu menghampirinya.  Aku berbangga saat kau menolak ikut sikat gigi bersama demi menjaga sandi, padahal kamu sudah diiming-imingi sikat gigi gratis.  Semua tentangmu, sebenarnya tak pernah lepas dari sandi yang dengan setia kamu temani.  Karena itulah Ano, saat hari terakhir kita bersama, aku senang sekali dapat terus menggandeng tangan kecilmu selama perjalanan kita dari Langgo hingga Ndengo.  Aku tak segan dengan keringat yang menyelip pelikat di antara kedua tangan kita yang saling menggenggam. Aku gembira kita bisa menyanyi bersama sepanjang jalan, meski suaraku lebih sering terdengar sumbang.  Aku sungguh bersyukur dapat mengenalmu dan menghayati kelembutan hatimu, walau hanya sebentar.  Ano, semoga sifatmu yang penyayang itu akan kamu bawa terus sepanjang hidupmu. Aku menyayangimu Ano, setulusnya.

Yovi

 “kakak menangis ya kemarin malam? Kakak tidak boleh menangis, kalau kakak menangis, kami juga menangis.” Masih terngiang dengan jelas apa yang kau katakan padaku siang itu, wajahmu yang polos dan kilatan matamu yang jenaka benar-benar membuatku membisu. “tidak, kakak tidak menangis. Untuk apa menangis, kakak bahagia dengan kalian sekarang.” Begitulah jawabku, semoga kau benar-benar percaya bahwa aku memang bahagia berada di tengah kalian.  Semoga kau juga percaya bahwa aku tidak akan  menangis, karena pada kenyataannya aku tidak akan pernah bisa menahan air mata tak menetes satu pun.
Bagaimana bisa air mata tetap dapat dibendung, bila terlalu banyak kisah yang kita buat, bila terlalu banyak senyum yang kau berikan padaku, bila ini adalah saatnya kita harus berpisah dan melepaskan sejenak apa yang telah kita jalin bersama.  Bagaimana bisa aku rela kehilangan keceriaanmu tanpa rasa sendu. Bagaimana bisa aku kehilangan api semangatmu tanpa merasa haru.  Bagaimana bisa aku menyadari semuanya akan berlalu, bila bukan dengan menangis.
Permintaanmu untuk menahan air mataku sungguh terasa muluk, dan kau pun mungkin sebenarnya tahu kemustahilan itu.  Semustahil dirimu yang mencoba tetap ceria, yang pada akhirnya kau pun menangis tergugu.  Aku tahu mungkin kau mencoba menegarkanku dan juga mungkin menegarkan dirimu sendiri.  Tapi anakku, ada saatnya emosi itu biarkanlah meluap agar ia mengalir dengan tepat.  Menangis bukanlah simbol ketidaktegaran, menangis hanyalah sarana ekspresi.  Bahkan mungkin tangisan itu yang akan menguatkanmu di hari kemudian. Yovi ku yang cantik, tetaplah bersinar, tetaplah tersenyum.  Di hari nanti aku datang lagi ke ndengo kita, aku ingin melihatmu berseri seperti mentari yang menghangatkanku lagi.

Filmon

 Rasanya baru kemarin aku memelukmu, mencoba menenangkan amukmu.  Rasanya baru kemarin kita berdua saling mengernyitkan muka, sebuah sapaan rahasia antara kamu dan aku.  Rasanya baru kemarin kita berdua duduk bersama membaca buku, walau hanya setengahnya saja kita selesaikan.  Rasanya baru kemarin aku mendendangkan namamu, mencoba menarik perhatianmu.  Rasanya baru kemarin aku mendengarmu bernyanyi dengan berani di depan panggung.  Lagu “aku anak Indonesia” yang kau nyanyikan sumbang pun, terasa merdu di telingaku. Rasanya baru kemarin aku berteriak menyemangatimu dan berlari menyebrangi panggung hanya untuk mengajakmu tos dan mengelus-elus kepalamu. Rasanya baru kemarin aku bertemu denganmu, baru sekelumit mengenalmu, tapi terjinakkan sudah hatiku oleh tingkah polahmu.  Rasanya baru kemarin aku mencari-carimu agar aku bisa memandangmu lekat sebelum meninggalkan tanah flores untuk sekian lamanya, untuk memautkan janjiku untuk kembali lagi.  Dan memang benar-benar kemarin aku menangis sesenggukan di rumah saat ditelpon oleh mamakmu,mengabarkan bahwa kamu telah tiba di rumah dan menangis mendapati kami telah pergi.  Filmon, aku rindu. Filmon anakku jadilah anak yang baik dan rajin, semoga kau bisa jadi presiden kelak.

Rindu

 Apa itu rindu?  Rindu adalah ketika aku duduk terdiam sambil mendengarkan sebuah lagu dan terhanyut dalam melodi dan lirik syahdu.  Rindu adalah ketika semua kenangan di masa dulu memproyeksikan dirinya dalam kotak memoriku.  Rindu adalah ketika aku merasa sangat kesepian meski tidak sendirian.  Rindu adalah ketika sore tadi aku mengingat satu persatu nama dan wajah kalian semua, pangeran dan putri kecil di dusun Ndengo.  Sungguh kalian telah menculik secuil hatiku.

Comments