Beberapa tahun belakangan ini, aku sangat suka berbagai karya musik musisi lokal. Perkembangannya menurutku luar biasa. Cukup bisa mengobati rasa kecewaku dengan arus EDM yang tak kunjung habis di pasar internasional. Karena lokalitasnya, aku bisa nonton konser mereka tiap kali mereka bertandang ke Jogja. Selain itu, bisa kepo-kepo juga ke berbagai interview oleh banyak media lokal baik yang populer ato alternatif. Bisa fangirling dan mengkhayal babu juga wkwkwk secara masih senegara. Padahal dulu menggapai yang sesekolahan aja tidak mampu 😅
Iga Massardi dan Bam Mastro adalah dua musisi favorit yang kuikuti wawancara-wawancaranya. Dari keduanya, aku belajar tentang pentingnya musisi untuk punya karya yang menyuarakan apapun keresahannya. Karya itu perlu dari hati dan nantinya ia akan menemukan pasarnya sendiri. Akan ada orang-orang yang beresonansi dengan yang kita cipatakan. Pasar bisa diciptakan kata ERK mah. Dan, ketika orang lain, banyak orang, menyanyikan karya kita, sebagai kerumunan massa atau sebagai bara dalam kehidupan personalnya, kita merasakan betapa karya kita berarti.
Karya bagi musisi adalah karya personal yang bisa jadi hingar bingar. Begitu pula karya seorang penulis. Beberapa menit yang lalu, aku juga menemukan karya seorang penggagas gerakan yang menjadi hingar bingar. Maksudku adalah karya itu tampak dan mudah dikenali dan mendapatkan pengakuan dari khalayak ramai. Lalu bagaimana dengan aku sebagai psikolog?
Bagiku karyaku adalah karya yang sunyi. Namun, semoga berarti.
Psikolog kebanyakan bekerja dalam hubungan yang sangat personal tanpa saksi mata selain ia yang mengalami. Prosesnya seringkali panjang dan begitupun buah dari proses tersebut seringkali tidak bersifat langsung. Ada semacam masa inkubasi. Seperti menebar bibit dan mengawali proses yang mendukung pertumbuhannya lalu melepaskannya untuk bertumbuh secara mandiri tanpa perlu menunggu, memastikan, melihat bahwa ia berbuah.
Karyanya adalah sesuatu yang sangat personal. Yang harus jauh dari keinginan mendapatkan pengakuan, baik dari ia yang mengalami apalagi dari khalayak ramai. Whitmore menyebutnya sebagai the art of guiding, seni menjadi cahaya yang menunjukkan berbagai jalan dengan bersikap penuh penerimaan terhadap pilihan apapun yang dipilih klien dan penuh kesediaan tetap menjadi penerang meski pilihannya tidak seperti yang diharapkan. Hmm bahkan berharap sesuatu pada klien juga kontraproduktif dan bertolak belakang dengan sikap penerimaan.
Bagiku, mungkin akan kuartikan sebagai sebuah kerja kemanusiaan untuk seorang manusia dengan cara yang memanusiakan. Kerja kemanusiaan yang senyap.
Sehingga, karya tidak selalu berwujud nyata dan tampak. Ia bisa abstrak dan tidak tampak tapi bisa dirasakan. Namun satu hal yang penting bagi sebuah karya adalah ia memiliki arti. Ya, semoga karyaku berarti.

Comments
Post a Comment