Skip to main content

Ketika Mata Tertutup membikin mataku sembab



Mata Tertutup adalah film karya Garin Nugroho yang berkisah tentang terorisme yang dilakukan oleh gerakan Negara Islam Indonesia (NII). Ketika sesi diskusi selepas pemutaran film, dijelaskan lebih lanjut bahwa film ini melalui  proses riset terkait gerakan Jemaah Islamiyah. Proses riset ini pun sangat melibatkan para aktornya secara aktif. Bahkan disampaikan bahwa film ini tidak berjalan dengan script, tapi tiap aktor mengekplorasi sendiri tiap karakter, mengembangkan dan mengimprovisasi peran yang dimainkan. Saat pengambilan gambar, Garin akan memberikan umpan balik untuk tiap adegan. Oleh sebab itu, para aktor ini kemudian membaca buku-buku tentang terorisme, membaca catatan harian orang Jemaah Islamiyah, bertemu orang Jemaah Islamiyah di penjara, dan mungkin masih banyak lagi. Jadi bisa dibilang film ini berdasarkan kisah nyata, meski tidak ada klaim tertentu seperti itu di film ini.

Film ini berkisah tentang NII yang menganggap bahwa NKRI adalah sistem pemerintahan yang zalim dan tidak memuliakan rakyat. Narasi tentang kemiskinan dan ketidakadilan menjadi sumbu gerakan ini. Potongan ayat Al-Quran yang dicuplik sana-sini menjadi bumbu penyedap yang menggiurkan banyak orang untuk ikut menjadi bagian. Sementara itu, rasa kecewa dan hilangnya makna kehidupan menjadi api yang membakar orang-orang  NII ini melakukan sesuatu untuk mengembalikan sense dan essence dari kehidupan yang mereka jalani.

Adalah Rima, mahasiswa kedokteran yang muak dengan ketidakadilan di sekitarnya. Dia sendiri berasal dari keluarga yang cukup berada dan membebaskannya beraktivitas. Ia banyak membaca yang membuatnya membara bahwa hidup perlu memberikan manfaat. Ia memiliki keinginan yang kuat untuk memimpin dan mengorganisasikan diri. Di NII, ia mampu merekrut banyak orang untuk bergabung. Ia juga mampu mengumpulkan dana fantastis dalam waktu singkat hingga menuai pujian dari pimpinan NII. Ia mendapatkan gelar untuk pencapaiannya.

Adalah Jabir, seorang santri yang harus berhenti dari pesantren karena tidak mampu lagi membayar SPP. Ia memang berasal dari keluarga miskin yang menggantungkan hidup dari jerih payah sang ibu sebagai penjual kecil-kecilan di pasar. Sementara itu, ayahnya sering meminta uang pada ibu untuk entah keperluan apa. Harus ada, karena bila tidak maka sang ibu berubah serupa samsak tinju bagi si bapak. Di sisi lain, si bapak sering menyalahkan Jabir yang hanya menghabiskan uang untuk nyantri tapi tidak menghasilkan uang apapun. Kasih sayang dan rasa hormat Jabir pada sang ibu berkelindan dengan kemarahan yan besar pada si bapak, juga kekecewaan pada diri sendiri yang memang tidak bisa membantu ekonomi keluarga.

Rima yang semakin memantapkan keyakinannya terhadap NII untuk mengaktualisasikan diri dan merealisasikan keadilan untuk masyarakat, tiba-tiba terhempas oleh kenyataan bahwa sebaik apapun prestasinya takkan pernah bisa menjadi pemimpin gerakan, karena ia wanita. Kemarahannya semakin menggelegak ketika ia tahu bahwa pimpinan NII yang selalu berkoar untuk menempatkan rakyat dalam kemuliaan justru mengabaikan kondisi istrinya yang kesakitan saat hamil tua. Istrinya hidup dalam kondisi miskin, tidak punya uang sama sekali, bahkan hanya untuk pergi ke dokter persalinan. Seluruh kritiknya pada NII dimentahkan dengan sebutan kafir, terhadapNya dan terhadap pimpinan NII sebagai utusanNya.

Sementara itu, Jabir justru menemukan harapan baru tentang arti diri dan makna hidup. Ketidakmampuannya membahagiakan sang ibu di dunia, membuatnya berpikir bahwa ia bisa membahagiakan ibunya di akhirat. Ia mengajukan diri sebagai pelaku bom bunuh diri. Ia berikan apa yang ia rasa ia miliki satu-satunya, nyawa.

Rima pulang dengan kecewa. Di dalam kamarnya, meruap aroma kehampaan dan kekalahan. Ia mungkin merasa kalah, entah dengan siapa.

Sementara itu, tampak Jabir sedang membuat video perpisahan tentang motivasinya berjihad di jalanNya dan pesannya pada sang Ibu. Dengan wajah tersenyum yang tidak pernah dinampakkannya di seluruh adegan sebelumnya.

Aku duduk terpaku. Kaku betul rasanya. Ada perasaan merayap sedikit demi sedikit dan menguat. Terenyuh. Belas Kasih. Pada orang-orang yang kehilangan makna dan tujuan tentang hidup. Pada orang-orang yang sejatinya mencari dan menapaki. Pada orang-orang dengan rasa ingin yang kuat, tapi tanpa ketrampilan dan kebaikan. Orang-orang yang hilang arah, begitu kata orang. Orang-orang yang masih punya energi untuk hidup, tapi tidak tau alasan untuk hidup.

Dalam konsep psikosintesis, dikatakan bahwa  setiap orang sejatinya memiliki kehendak (will) yang baik, kuat, dan terampil. Kehendak personal ini terhubung dengan kehendak transpersonal. Yang transpersonal adalah yang merupakan jejak ilahiah di tiap diri manusia. Dan yang ilahiah ini selalu mengirimkan petunjuk tentang apa yang perlu  dilakukan, tapi seringkali dalam bentuk yang terdistorsi karena retaknya hubungan antara yang personal dan yang transpersonal. Akibatnya, kehendak yang muncul kehilangan kualitas alamiahnya yang baik, kuat, dan terampil.

Di luar ketidaksetujuan terhadap apa yang dilakukan Rima dan Jabir, aku merasakan hadirnya kehendak yang kuat untuk menemukan makna dalam kehidupan. Pada Jabir, kehendak ini kehilangan kualitasnya yang baik karena ia hanya berbelas kasih pada sang ibu. Kemarahannya pada ayah dan dunia yang tidak adil membuatnya sulit berwelas asih pada seluruh makhluk. Sedangkan rasa tidak mampu dalam dirinya membuatnya kehilangan kualitas kehendak yang terampil karena ia terbatas untuk mengeksplorasi berbagai pilihan sehingga keputusan yang diambilnya pun adalah hasil dari cakrawala pandang dan pikir yang sempit. Kemarahan dan kekecewaannya membuatnya terhanyut pada perasaan tersebut, dan kehilangan nalar kritisnya.

Sementara itu pada Rima, pergolakan batin yang membuatnya bergabung pada NII tidak tergambarkan dengan cukup kuat selain kutipan dari buku yang dituliskannya di tembok. Namun, perasaan hampa, kosong, dan kalah setelah ia melihat ketidakadilan yang tetap terjadi dalam tubuh NII membawanya kembali pada titik hilangnya makna terhadap kehidupan.

Untungnya, aku menonton film ini di JAFF sehingga lampu tidak  serta merta dinyalakan setelah film usai. Sembari layar menampilkan deretan nama kru yang berjasa dalam merealisasikan film ini, aku memperoleh ruang untuk menghela nafas dan mengeringkan pipi yang sudah basah. Ada sisi aku merasa bersyukur dengan hidup yang ku jalani, ada rasa kasih pada betapa manusia memerlukan makna dan tujuan hidup (sungguh makhluk yang spiritual), ada sedih dan marah pada mereka yang mengambil jalan salah (salah menurutku sih, bagi mereka mungkin aku yang salah).

Sembari menuliskan ini, aku jadi teringat Mati Bujang Tengah Malam yang juga mengangkat isu terorisme. Di kedua film ini, ada satu benang merah yang menghubungkan bahwa terorisme dekat dengan isu kemiskinan. Kemiskinan yang membuat orang mudah merasa tidak berdaya.  Mudah merasa kehilangan makna. Mengutip Jason Ranti lagi, bila hidup adalah doa yang panjang oh sayangnya doanya musti seragam: menjadi orang sukses dan kaya. Amin.

Comments