Skip to main content

Mengurai rasa



Hari ini aku merasa tidak jelas. Tidur-tiduran mainan handphone sejam penuh. Aneh, tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi.

Cuma satu yang aku tahu saat itu. Aku ingin makan yang enak! Lalu, pikiranku terhenti. Masih jam empat dan aku sudah ingin makan, artinya aku lapar bukan karena memang perutku kosong tapi hatiku yang kosong. Cielah. Iya, ada istilah yang dikenalkan oleh salah seorang temanku yaitu lapar psikologis. Reaksi lapar karena kita merasa tidak nyaman dengan suatu hal, sehingga, kita merasa perlu makan karena makan membuat kita nyaman. Jadi, makan sebagai semacam pengalih emosi, dari tidak nyaman jadi nyaman, dari tidak senang jadi senang.

Lalu aku mencoba mengurainya satu persatu apa saja perasaan yang tidak nyaman ini?

Ada rasa tidak kompeten
Rasa bersalah
Marah

Berpikir bahwa tadi aku tidak bisa memberikan penjelasan secara runut dan logis
Berpikir bahwa kenapa aku sangat sulit menjelaskan satu hal yang abstrak ke dalam hal yang lebih konkrit
Berpikir bahwa aku tidak cukup berusaha mengambil jalan yang susah payah untuk membuat orang lain benar-benar paham dengan apa yang kumaksudkan
Berpikir bahwa aku gagal menjadi bagian dari perubahan yang mendukung keberpihakan pada korban
Berpikir bahwa aku tidak habis pikir bagaimana mungkin seorang perempuan kesulitan memahami apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan lain

Ada rasa lega bahwa aku masih memiliki kemarahan tersebut. Namun, ada rasa jengkel pada diri sendiri kenapa belum bisa memanfaatkan energi marah ini dengan cantik. Rasa bersalah ini masih menggelanyuti. Dan kemudian, aku mencari bantuan, membutuhkan teman untuk memahami uneg-unegku.

Aku menjangkau temanku melalui pesan whatsapp: hai, aku merasakan ini, aku perlu teman untuk mendengarkan ceritaku, dan memahamiku.

Lalu, ia memberiku perspektif lain.
Bahwa meskipun aku mampu untuk menjelaskan dengan sangat baik, maka hal ini akan menjadi informasi baru, tapi akan membutuhkan banyak proses untuk mengubah perspektifnya
Bahwa keseriusanku di isu ini justru bisa jadi menemui rintangan justru dari orang lain yang tidak banyak bersinggungan dengan isu ini tapi berfungsi krusial di upayaku saat ini
Bahwa aku punya pilihan untuk melibatkan siapa saja dalam upayaku
Bahwa kemarahanku adalah hal yang wajar

Ya, perasaanku yang tidak nyaman ini adalah hal yang wajar. Ketika aku menganggapnya sebagai hal yang wajar, aku mau merasakannya, bukan menghindarinya. Aku mentoleransi ketidaknyamanan, bukan mengalihkannya. Aku mau mengurainya, bukan menguburnya.

Ngudo rasa, ngudar rasa, begitu istilah jawanya. Artinya, mengeluarkan isi hati, mengurai rasa. Pada konteks bahasa jawa, istilah ini juga mengacu pada keberadaan orang lain untuk membantu kita mengurai perasaan. Perasaan memang kadangkala rasanya terlalu membuat kita kewalahan untuk menguraikan sendiri sehingga wajar saja untuk menguraikannya bersama orang lain. Keuntungannya bisa mendapatkan perspektif baru. Bila kita beruntung bertemu dengan orang lain yang bisa merespon sesuai kebutuhan, bisa jadi justru meningkatkan persepsi kita tentan seberapa baik kualitas hubungan kita dengan orang lain. Kita semakin yakin bahwa orang lain bisa dipercaya dan diandalkan, bahwa ketika kita merasa sangat kesulitan tapi kita tidak sendirian.

Halo diriku, terimakasih ya sudah menguraikan perasaanmu, dengan merenungkan, berbagi ke orang lain, dan menuliskannya. Semoga tulisan ini akan selalu menjadi pengingat bahwa ada pertumbuhan di setiap rasa tertekan yang kamu rasakan, asalkan kamu mau menguraikannya, sehingga yang menekan menjadi lebih longgar.

Comments