Ketika ia berkata bahwa satu kritikan terhadap karya bisa membuatnya down, aku sempat berpikir bahwa ia adalah orang yang haus akan penerimaan dari orang lain. Hari ini aku berkaca pada diriku sendiri. Ketika orang asing tak dikenal merendahkan argumenku, ternyata itu menyakitkan. Apakah itu artinya aku juga haus akan penerimaan dari orang lain?
Atau, kebutuhan akan penerimaan itu adalah alamiah dan wajar adanya. Dalam artian, respon munculnya perasaan down dan sakit hati adalah spontan dan alamiah. Hanya saja, seberapa lama, seberapa dalam, dan bagaimana ia termanifestasikan dalam perilaku lah yang akan menjadi tolok ukur apakah sakit hati itu sebagai hal yang normal atau patologis. Apakah kebutuhan akan penerimaan dalam taraf yang wajar atau sudah dalam tahap kehausan.
Ketika aku mengakui oh ternyata menyakitkan ya mengetahui ada orang yang merendahkan ku. Ya pada kasus ini, aku, bukan argumenku. Kemudian, ada suara dari dalam diriku: setiap orang punya salib yang perlu ia panggul. Salib yang membuat hidup bermakna dan berarti. Meski, membuat hidup mungkin lebih rumit dan sulit.
Bukankah apa yang dianggap baik-baik saja dalam masyarakat tidak selalu benar? Bukankah kebenaran lah yang perlu diperjuangkan? Bukankah ada hal yang penting disuarakan meski ia sering dibungkam? Bukankah itulah impianku menjadi bagian dari dunia yang berubah?
Seperti yang dikatakan seseorang yang lain bahwa ketika kita mengambil pilihan yang tidak mudah, hal yang lebih penting dipertanyakan bukan sekedar seberapa sulit? Namun juga, seberapa besar pengaruhnya ke masyarakat? Apakah yang kita tempuh dengan susah payah adalah sesuatu yang berharga untuk dunia..
Ingat Nov, ini adalah keputusanmu untuk memilih salib mana yang perlu kamu panggul.

Comments
Post a Comment