Berenang merupakan aktivitas yang merilekskan badan dan perasaanku. Renang membuat badanku bergerak seluruhnya dengan ritme yang teratur. Berenang juga membantuku mengatur nafas, yang kata dokter baik untuk merawat diriku yang punya penyakit asma ini. Keteraturannya melatihku untuk bersikap disiplin dan sabar dengan proses yang perlu dilalui. Berenang dengan sikap ini membuatku bisa memperkirakan tujuan dan menikmati gerakan demi gerakan yang kulakukan. Sementara itu, bila aku terburu-buru dan kehilangan ritme maka pasti aku mudah kehabisan nafas hingga tidak bisa menjaga keseimbangan. Hasilnya, aku tidak kunjung sampai tujuan dan membuatku merasa sangat lelah.
Melalui berenang, tanpa disadari aku merefleksikan diriku. Aku paling tidak berbakat untuk merasa dikejar-kejar dan terburu-buru mengambil keputusan. Sebab ketergesa-gesaan menimbulkan kepanikan dan kecemasan: momen paling riskan dalam hidup untuk mengambil keputusan apapun. Dan seperti berenang, yang kuperlukan adalah belajar untuk lebih berani berkata “stop” pada diriku. Yang kuperlukan adalah belajar untuk lebih terampil mengatur kembali ritmeku. Ritme bernafas, tarik nafas, keluarkan. Ritme bergerak, satu, dua, tiga, empat. Seperti halnya berenang, aku akan mampu untuk menjalani tahapan yang diperlukan untuk mencapai apa yang kutuju dengan perasaan nikmat.
Namun, bagaimana aku hidup ternyata berbeda dengan bagaimana aku berenang. Bila kusetarakan hidup sebagai berenang, maka kehidupan sebagaimana air. Ada satu sikap dasar yang perlu dikuasai sebelum kita bisa berenang, yaitu percaya pada air yang tidak akan menenggelamkanku dan bahkan akan menopangku. Sikap dasar yang belum sepenuhnya kulatih dalam hidup, yaitu percaya bahwa kehidupan tidak akan menenggelamkanku dan bahkan akan menopangku. Ketika aku memiliki kepercayaan pada air ketika berenang, maka aku bisa dengan mudah mengatakan “stop” dan mengatur ritmeku. Namun, ketika kepercayaanku pada kehidupan mudah goyah ketika aku menjalani hidup, betapa aku masih belajar tertatih-tatih untuk menghentikan kecemasanku dan mengatur ritme dalam hidupku. Sometimes I feel lost. Sometimes I feel trapped.
Ada satu hal yang membedakan derajad kepercayaanku pada air dan kehidupan. Aku tahu, memahami, dan membuktikan bahwa prinsip dalam berenang adalah selalu keluarkan nafasmu di dalam air. Halangilah air masuk ke mulut atau hidungmu. Selama aku disiplin melakukannya, air tidak akan pernah menenggelamanku dan selalu menopangku. Namun, apakah prinsip yang dalam hidup? Apa yang harus selalu kulakukan dan yang harus kuhalangi dalam kehidupan agar aku percaya bahwa kehidupan tidak akan menenggelamkanku dan selalu menopangku? Selalu keluarkan yang ada dalam diriku untuk kehidupan? Halangi hasratku untuk mengambil sesuatu dari kehidupan? Berilah dan bermanfaatlah? Halangi keinginan meminta dan bersifat tamak pada kehidupan?
Aku belum tahu. Pertanyaan ini bergema padaku sekarang. Sebisik jawaban dalam diriku yang muncul entah darimana. Ada keyakinan dalam diriku bahwa jawaban itu tidaklah salah. Namun, ada sikap mawas diri yang memintaku berhenti dahulu untuk menguraikan sesuatu yang rasanya masih prematur.
Namun, satu hal yang ingin kuucapkan untuk diriku sendiri: Terimakasih sudah menulis hari ini, terimakasih sekali lagi untuk keberanianmu put your mind in words, membuatnya lebih tertata, lebih terurai. Memilah mana yang menjadi pemahamanmu, dan, memilah mana yang menjadi pertanyaanmu. Terimakasih sudah risau dengan proses tesismu, terimakasih sudah mau menengok sejenak ke belakang ke masa PKPPmu, terimakasih sudah menemukan pola yang sama di antara keduanya, terimakasih sudah terbuka menguraikannya. Terimakasih sudah menulis hari ini.ΔΊ

Comments
Post a Comment