Senin lalu, kira-kira empat hari yang lalu, aku kehilangan tempat make-up ku. Bukan make-up juga sih, karena isinya hanya BB cream, olive oil, dan vaseline for dry skin. Ternyata dompet itu tertinggal di mobil rentalan dan akan diambilkan temanku pada sabtu depan. Alhasil, selama beberapa hari ini aku benar-benar berwajah polos hanya dengan bedak dan lipbalm.
Sebulan yang lalu, pelembab dan sabun cuci mukaku habis. Saat itu aku benar-benar sedang tidak punya uang sehingga aku pun tidak segera membelinya. Aku memutuskan untuk bertoleransi untuk mencuci mukaku dengan sabun mandi kesayangan Dettol original body wash. Aku juga bertoleransi untuk menyerahkan fungsi pelembab untuk sementara waktu ke BB cream yang sebenarnya juga punya fungsi melembabkan. Eh, tidak terasa keterusan hingga sekarang karena beneran lho toleransinya bekerja!
Aku cukup terkaget-kaget dengan apa yang kurasakan di kulitku saat ini. Memang sih awalnya kadang terasa kering. Tapi asalkan setiap mandi aku benar-benar menggosok kulit wajahku maka kulit-kulit yang mengering ini akan terkelupas dan wajahku kembali halus. Hingga saat ini justru wajahku terasa ringan –ringan saja. Jerawat juga tidak muncul. Aku berpikir, mungkin kulitku sempat kering karena sakaw obat bahan kimia saja karena nyatanya toh sekarang baik-baik saja.
Hanya saja aku memang berencana untuk menggunakan bengkoang secara rutin untuk menyegarkan. Karena bengkoang kan kandungan airnya banyak ya. Aku juga berkomitmen untuk menjaga asupan air putih dan memakan buah secara rutin yang pasti juga akan sangat berguna untuk kulitku. Jadi, bukannya aku tidak mau merawat kulitku, tapi mengalihkan perawatannya ke bahan-bahan alamiah. Mungkin lebih repot ya harus cari bengkoang, memarut, mengoleskan ke wajah, membersihkan. Namun, untuk seminggu sekali kukira bisa lah sekalian rehat.
Pengalaman satu bulan dengan produk perawatan yang minimalis ini membuatku benar-benar tersadar tentang bagaimana industri kapitalistik meraup banyak keuntungan dengan membuat standar cantik bagi perempuan.
Kira-kira sudah 4 tahun berlalu sejak aku melepaskan diri dari make-up. Aku pernah di fase sangat suka dengan make-up hingga ke kantor pun aku mengggunakan make-up. Namun, lama-lama aku merasa waktuku banyak terpakai untuk menggunakan make-up. Termasuk bagaimana aku mengkhawatirkan apakah make-up ku lebai atau tidak. Termasuk bagaimana aku punya rasa cemas untuk menakar kapan aku perlu mengecek dan touch-up lagi. Segala keribetan itu membuatku berhenti menggunakan make-up, bahkan hingga sekarang. Bahkan hingga mau kondangan saja aku sangat malas menggunakan make-up.
Tanpa perawatan dan make-up, wajahku sungguh sangat biasa saja. Kalau ke kondangan tampak ak lebih kusam dari teman-teman lain di foto. Tapi di balik itu, aku tau kok wajah kami mirip-mirip juga kalo kita sama-sama tidak pakai make-up. Di titik inilah, aku sadar bahwa aku butuh menampilkan diriku apa adanya, untuk melihat seberapa mudah aku menerima bahkan jatuh cinta pada diriku apa adanya. Tanpa make-up, dengan kekurangan yang tampak, aku bisa menakar dengan ukuran yang jujur tentang bagaimanakah sebenarnya aku memandang diriku sendiri. Dan, aku ingin tau seberapa banyak orang-orang di sekitarku yang tidak mempermasalahkan itu dan tetap mau berada di lingkaran terdekatku karena kualitas-kualitas lain yang lebih esensial di dalam diriku.
Dan, pada skala yang lebih luas, pilihanku untuk menolak make-up dan mengalihkan produk perawatan yang lebih alami merupakan pilihanku untuk melawan standar cantik dan industri. Aku ingat pernah menuliskan di status facebookku, satu hari setelah datang ke reuni SMA dengan teman-teman yang berdandan gegap gempita, kira-kira begini aku menulis: seandainya setiap perempuan menyadari betapa cantik diri mereka dengan fitur-fitur khas di wajahnya, seandainya setiap perempuan mampu menghargai bahwa cantik tidak harus putih, tidak harus beralis rapi dan tebal, tidak harus bermata besar, tidak harus berhidung mancung, tidak harus berpipi merona, tidak harus berbibir merah, akan seberapa jauh kapitalisme ini runtuh? Hahaha sungguh deh.
Lalu, salah satu temanku bilang ia suka lho pakai lipstick, gimana dong? Dan sekarang aku pikir tidak masalah perempuan suka menggunakan lipstick, atau menggunakan make-up pun karena itu adalah pilihan pribadi. Siapa tahu justru itu cara untuk menunjukkan rasa cinta ke diri sendiri. Pada tataran perilaku, pasti akan banyak variasi dan yang yang terpenting adalah esensi. Yang terpenting adalah menyadari bahwa di balik penggunaan produk-produk tersebut ada pesan terselubung tentang bagaimana cantik didefinisikan dalam satu pengertian tunggal.
Dengan kesadaran tersebut, maka akan muncul sikap yang mawas terhadap motif diri sehingga terhindar dari rasa tidak puas diri ataupun mencela kekurangan orang. Misal, ih mukaku jelek banget sih kalo gak pake lipstick, atau, ih kamu pake lipstick coba biar keliatan segar.
Hehehe sembari menuliskan ini, aku jadi sadar ada perilakuku yang secara subtil masih terjebak di definisi tunggal cantik itu. Seminggu lalu aku memuji betapa cantik temanku. Setelah kusadari, saat itu dia memang sedang menggunakan full make-up dengan blush on merona yang membuatnya tampak segar! Mudah ya memang memandang perempuan cantik ketika dia memang put an effort on it. Tapi kapan sih aku memuji temanku itu saat misal aku sehari-hari bertemu dengannya di kantor dengan muka yang tidak merah merona tapi antusias menjelaskan sesuatu?
Iya kan mawas diri adalah koentji!

Comments
Post a Comment